Wednesday, October 28, 2015

BAGAIKAN SETETES MADU DAN SEEKOR SEMUT KECIL..



💧Setetes madu jatuh di atas tanah💧 . .

🐜Datanglah seekor semut kecil, perlahan-lahan dicicipinya madu tersebut. . .

🐜Hmmm... manis. Lalu dia beranjak hendak pergi. .
.
. 🐜Namun rasa manis madu sudah terlanjur memikat hatinya. Dia pun kembali untuk mencicipi lagi, sedikit saja. Setelah itu barulah dia akan pergi. .
.
. 🐜Namun, ternyata dia merasa tidak puas hanya mencicipi madu dari pinggir tetesannya. .
.
. 🐜Dia pikir, kenapa tidak sekalian saja masuk dan menceburkan diri agar bisa menikmati manisnya, lagi dan lagi. .
.
. 🐜Maka masuklah sang semut, tepat di tengah tetesan madu. .
.
. 🐜Ternyata? Badan mungilnya malah tenggelam penuh madu, kakinya lengket dengan
tanah. .

. . 🐜Dan... Tentu saja tak bisa bergerak. .

. . 🐜Malangnya, dia terus seperti itu hingga akhir hayatnya. Mati dalam kubangan setetes madu. ..

. 🌀Demikianlah analogi sederhana tentang dunia dan pecinta dunia, sebagaimana diperumpamakan dalam sebuah pepatah Arab : .

. ✨"Hakikat apa-apa dari kenikmatan dunia melainkan bagai setetes besar dari madu.

💦Maka siapa yang hanya mencicipinya sedikit, ia akan selamat.

💦Namun siapa yang menceburkan diri ke dalamnya, ia akan binasa."

-------------------------

 وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ ۖ وَلَلدَّارُ الْآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ ۗ أَفَلَا تَعْقِلُونَ

"Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?" (Al- An'am : 32)

🍒Semoga bermanfaat...
🌻Tetap semangat menatap masa depan...
🌺Meraih kebahagiaan untuk mendapat ridho Allah yang haqiqy...

🌴.🍃🍒🌻🌺💥🌺🌻🍒🍃.🌴

✏ Oleh Ust. Abu Yusuf Masruhin Spd. Hafidzahullah

📢 Fenomena, "Maling teriak Maling"...



=======

Itulah yg saya tangkap dari banyak kejadian di negeri kita Indonesia.

Seringkali orang atau kelompok mengambil langkah itu utk mengamankan dirinya atau menggiring opini masyarakat ke arah yg diinginkannya.

Lihatlah bagaimana kaum liberal yg getol menyuarakan toleransi, dan berteriak bahwa kelompok lain tdk toleransi... nyatanya mereka sendiri selalu menyerang dan memerangi pemahaman kaum muslimin yg berpegang teguh kepada Alquran dan Assunnah, mereka katakan kuno, kaku, ekstrim, dan julukan buruk lainnya... "maling tapi teriak maling".

Lihatlah bagaimana kaum tradisionalis mengajak utk saling menghormati, tidak merasa paling benar, dan bersikap bijaksana dlm mengahadapi perbedaan pendapat... nyatanya mereka sendiri yang selalu meneriakkan kesesatan kaum ahlussunnah yg mereka stempeli wahabi... mereka gruduk majelisnya... bahkan berusaha menutup instansi pendidikan mereka... itukah sikap saling menghormati?! tidak merasa paling benar?! dan itukah sikap bijaksananya?! "Maling teriak maling".

Lihatlah bagaimana sebagian dr mereka meneriakkan "jangan bawa-bawa budaya arab, kita di indonesia", dan mereka anggap bahwa jenggot dan cadar sebagai budaya arab, bukan bagian dari Islam... tapi nyatanya ketika mereka ke arab, mereka membawa-bawa budaya indonesia; batik, sarung, songkok, rokok, bahkan ritual-ritual agama yg tdk ada tuntunannya pun mereka bawa ke arab... "maling teriak maling".

Subhanallah, ternyata sikap maling teriak maling ini juga telah dilakukan oleh Fir'aun kepada kaumnya, lihatlah firman Allah ta'ala:

وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُونِي أَقْتُلْ مُوسَىٰ وَلْيَدْعُ رَبَّهُ ۖ إِنِّي أَخَافُ أَن يُبَدِّلَ دِينَكُمْ أَوْ أَن يُظْهِرَ فِي الْأَرْضِ الْفَسَادَ

Fir'aun mengatakan (kepada para pembesarnya): "Biarkanlah aku membunuh Musa dan silahkan dia meminta (bantuan) Tuhannya, karena sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agama kalian atau menimbulkan kerusakan di muka bumi". [QS. Ghofir:26]

Lihatlah, bagaimana Firaun menuduh Nabi Musa membuat kerusakan di muka bumi, padahal dialah perusak yang sebenarnya... ya, maling teriak maling... sikap yg tercela, tapi sayang banyak yg menjalankannya.

Saya yakin Anda bukan dari mereka...

✏ Oleh: Ustadz Musyaffa Ad-Dariny, MA.

✏✏✏...Kelezatan dalam Tholibul Ilmi ✒

Bagaimana kesungguhan Para Salaf dalam menuncari Ilmu sungguh menakjubakan bagi mereka yang meniti jalan mereka.
Lapar dan dahaga Mereka, Ulama Salaf dalam menuntut Ilmu menunjukkan kesunguhan dan kesabaran dalam menempuh jalan ini.
Mereka ingin mendapatkan kebaikan tholibul ilmi sebagaimana yang dijanjikan oleh Rasululloh.  

🍒Rasululloh صلى الله عليه وسلم bersabda,
 من سلك طريقًا يلتمس فيه علمًا سهَّل اللهُ له طريقًا إلى الجنةِ ، و إنَّ الملائكةَ لَتضعُ أجنحتَها لطالبِ العلمِ رضًا بما يصنعُ ، و إنَّ العالمَ لَيستغفرُ له مَن في السماواتِ و من في الأرضِ ، حتى الحيتانُ في الماءِ ، و فضلُ العالمِ على العابدِ كفضلِ القمرِ على سائرِ الكواكبِ ، و إنَّ العلماءَ ورثةُ الأنبياءِ ، إنَّ الأنبياءَ لم يُورِّثوا دينارًا و لا درهمًا ، إنما ورَّثوا العلمَ ، فمن أخذه أخذ بحظٍّ وافرٍ.
“Barangsiapa yang berjalan menuntut ilmu, maka Allah mudahkan jalannya menuju Surga. Sesungguhnya Malaikat akan meletakkan sayapnya untuk orang yang menuntut ilmu karena ridha dengan apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang mengajarkan kebaikan akan dimohonkan ampun oleh makhluk yang ada di langit maupun di bumi hingga ikan yang berada di air. Sesungguhnya keutamaan orang ‘alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Dan sesungguhnya para Nabi tidak mewariskan dinar tidak juga dirham, yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Dan barangsiapa yang mengambil ilmu itu, maka sungguh, ia telah mendapatkan bagian yang paling banyak." (HR Ahmad (V/196), Abu Dawud, 3641, At-Tirmidzi, 2682, Ibnu Majah, 223 disohihkan Al-Albany)  

🌴Berikut ini sebagian kisah kesabaran dan  kesungguhan mereka dalam Tholabul ilmi:  

🌱Nadhr bin Syumail رحمه الله  berkata:
”Seseorang tidak akan mendapatkan kelezatan ilmu, hingga ia merasakan lapar (ketika menuntut ilmu), namun melupakan laparnya.” [At Tadzkiratul Huffadzh, Imam Adz DZahabi ,1/314].  

🌱Baqi bin Mikhlad Al Andalusy رحمه الله.
Beliau pernah berkeliling ke berbagai negara di dunia dengan hanya berjalan kaki !!!, Beliau berkata,"Sungguh , saya mengetahui seseorang yang ketika menuntut ilmu lewat berhari-hari tidak memiliki makanan, kecuali daun kubis yang sudah terbuang." [Tadzkiratul Huffadzh, Imam Adz Dzahabi  2/630]  

🌱Ibnu Kharras رحمه الله  berkata:
” Saya minum kencing saya sendiri ketika saya dalam perjalanan menuntut ilmu, hal ini terjadi lima kali !! (seseorang tidak akan meminum kencingnya sendiri kecuali dalam keadaan sangat haus yang haus ini dapat mengakibatkan kematian)”. [Al Ibar Khoiri Man Ghabar, Imam Adz Dzahabi  2/70].  

🌱Abu Ali Al Hasan bin Ali Al Balkhi رحمه الله  berkata:
” Aku pernah tinggal di Asqolan untuk belajar dari Ibnu Mushahhih dan lainnya. Bekal nafkah saya semakin menipis hingga beberapa hari saya tidak bisa makan. Saya ingin menulis pelajaran, namun tidak bisa (karena perut sangat lapar). Saya kemudian pergi ke toko roti dan duduk di dekat roti tersebut hingga mencium aromanya agar saya punya tenaga. Kemudian Alloh Azza wa Jalla membantu saya." [Tadzkiratul Huffadzh, Imam Adz Dzahabi 4/1173]  

🌱Imam Abu Hatim Ar Razi رحمه الله .
(Imam dan ulama besar dalam bidang Jarh Wa Ta’dil) pernah bercerita,
”Saya tinggal di bashrah delapan bulan dan kehabisan bekal nafkah. Saya menjual baju saya satu demi satu, hingga tidak punya apa-apa. Saya bersama teman pergi ke rumah Masyayikh (guru) untuk belajar hingga sore hari, kemudian saya pulang kerumah yang sepi untuk minum air karena lapar tidak punya makanan. Saya lakukan hal ini selama dua hari, Pada hari ketiga seorang teman berkata, ” Mari kita pergi ke rumah guru!”, Saya menjawab” Saya lemah dan tidak bisa (berdiri)”, Dia berkata lagi” Kenapa kamu lemah?”, Saya katakan kepadanya” Saya tidak akan merahasiakannya, sudah dua hari saya tidak makan.” Dia berkata,” Saya masih memiliki satu Dinar dan saya berikan kepadamu setengahnya.” [Al Jarh Wat Ta’dil, Imam Abu Hatim Ar Razi]  

🌱Imam Muhammad bin Thahir Al Maqdisi رحمه الله.
Beliau  menceritakan tentang perjalanan menuntut ilmu dan kesulitan yang beliau alami, beliau berkata,” Saya tinggal di Tunis bersama Abu Muhammad bin Al Haddad, bekal saya semakin menipis hingga tersisa hanya satu dirham. Saat itu saya butuh roti dan kertas untuk menulis pelajaran. Jika dipakai beli kertas maka saya tidak akan makan roti. Kebingungan ini berlanjut hingga tiga hari (antarabeli roti atau beli kertas ), selama itu pula Saya tidak merasakan makanan sama sekali. Pada hari keempat, dalam hati saya berkata, ”Kalau saya punya kertas, maka saya tidak akan bisa menulis karena sangat lapar. Saya taruh uang satu dirham tersebut di mulut dan saya putuskan untuk keluar dan membeli roti. Tiba-tiba tanpa terasa uang satu dirham tersebut tertelan oleh mulut ke dalam perut, kemudian saya tertawa. Abu Thahir mendatangi saya dan bertanya,”Apa yang membuatmu tertawa? Saya menjawab, ”Khoir.”
Beliau meminta saya untuk menceritakannya, namun saya tolak. Ia terus memaksa sehingga saya ceritakan kejadiannya, lalu Beliau mengajak saya ke rumahnya dan memberi saya makanan.” [Tadzkiratul Huffadh, Imam Adz Dzahabi 4/1246]  

🌱Imam Al Bukhori رحمه الله  berkata,”Saya menemui Adam bin Abi Iyyas di Asqolan untuk belajar darinya. Bekal saya semakin berkurang hingga saya makan rerumputan.”   

💥...Semoga Allah menganugerahi kita kelezatan dalam tholabul ilmi, sebagaimana mereka Salaf telah mendapatkannya…!!!  

🌱Dinukil dari berbagai sumber  

🍃 Abu Yusuf Masruhin

Jama'ah Kajian Cuma Dikit, Gak Perlu Sedih ! 💔




Saudaraku, janganlah engkau sedih hati dengan sedikitnya orang yang menghadiri pengajianmu atau mendengarkan ceramahmu! Ingatlah selalu hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عُرِضَتْ عَلَيَّ الأُمَمُ, فَرَأَيْتُ النَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّهْطُ, وَالنَّبِيَّ وَمَعَهُ الرَّجُلُ وَالرَّجُلاَنِ, وَالنَّبِيَّ وَلَيْسَ مَعَهُ أَحَدٌ

Dinampakkan kepadaku semua umat, lalu saya melihat ada seorang Nabi bersama tiga hingga sembilan pengikutnya, ada seorang nabi bersama satu atau dua pengikut, dan ada seorang nabi yang tidak memiliki pengikut satupun[3]. (HR. Bukhari: 5704, Muslim: 220)

Mahmud bin Syukri al-Alusi berkata: “Seorang alim tidaklah berkurang kedudukannya hanya dikarenakan sedikitnya murid sebagaimana Nabi tidaklah berkurang kedudukannya dikarenakan sedikitnya pengikut”.(al-Misku wal Idzhir hal. 198.)


Sekalipun hanya beberapa orang yang ingin belajar kepadamu, maka ajarilah mereka ilmu yang Allah anugerahkan kepadamu, semoga Allah melipatgandakan pahala bagimu. Ingatlah selalu kisah-kisah para ulama sebelum kita yang jauh lebih alim daripada kita.
Imam Malik rahimahullah berkata: “Aku mendatangi Nafi’ ketika usiaku masih kecil bersama seorang temanku, beliaupun turun untuk mengajariku. Beliau duduk setelah shubuh di masjid, namun tidak ada seorangpun yang datang kepadanya”. (Siyar A’lam Nubala’ 8/107)

Imam Atha’ bin Robah rahimahullah, dia adalah seorang yang paling dicintai manusia, namun yang hadir di majlisnya hanyalah delapan atau sembilan orang saja”.(Siyar A’lam Nubala’ 5/84, lihatMa’alim fi Thalabil Ilmi, Abdul Aziz as-Sadhan hal. 310.)

✏ Oleh: Ustadz Abu Ubaidah Yusuf As-Sidawi حفظه الله تعالى
Kiriman beliau di group WA ملتقى الدعاة الى الله

⚡⚡Awasi Bahaya Fitnah... Nasehat untuk kita semua...⚡⚡⚡



Saudaraku yang dicintai Allah....

Yakinlah..tidak ada musibah yang terjadi di atas muka bumi ini melainkan telah Allah tetapkan dalam taqdirNya...qoddarullah maa syaa-a  fa'ala. Allah telah mentaqdirkan..apa yang Allah kehendaki pasti terjadi..

Kejadian jatuhnya crane atau alat berat di Masjidil Haram di area thawaf para jamaah haji..jum'at sore yg lalu pukul 17.00 waktu KSA..yg menyebabkan puluhan jamaah meninggal dunia dan lebih dari 150 orang luka2..adalah sama sekali bukan kelalaian manusia..sebelumnya dikabarkan siang jum'at nan panas teriknya matahari yang seakan membakar tubuh..lalu tiba2 menjelang pukul 17.00 terjadi badai angin dan pasir yang menerjang kota Mekkah bahkan di wilayah sebelum memasuki kota Mekkah dari arah Madinah...lalu disusul pula dengan hujan es bagaikan butiran-butiran mutiara yang jatuh dari atas langit...Subhaanallah..lalu semua itu membuat jarak pandang terbatas...semua jamaah menghindari badai tersebut..bahkan tak terkecuali..kencangnya angin tersebut menjatuhkan alat berat yang ada di area thawaf..para jamaah sudah berusaha menghindari jatuhnya alat berat tersebut..akan tetapi Allah menghendaki sebagiannya diwafatkan oleh Allah...
انا لله وانا اليه راجعون. ان لله ما أخذ وله ما أعطى ولكل اجل مسمى فالتصبر ولتحتسب
Sesungguhnya kita milik Allah dan seaungguhnya kepadaNya akan kembali. Sungguh milik Allah apa yang diambil dan apa yang diberi..setiap jiwa memiliki ajalnya..maka bersabarlah dan carilah pahala...

Saudaraku...
Jangan jadikan diri kita sebagai agen keburukan bagi media-media barat yang memusuhi Islam...sekarang begitu banyak berita yang beredar yang menuduh pemerintahan Saudi Arabia lalai dalam masalah ini...Saudi telah melakukan kecerobohan..dan sejumlah cacian..cercaan...tuduhan..terlebih ini dijadikan senjata betul oleh kaum syiah rafidhah untuk menyalahkan dan menyudutkan Saudi...sungguh..jika kita beriman kepada Allah dg sebenar2nya keimanan..kita akan dapati ini adalah bagian taqdir yang tidak bisa dihindari oleh manusia...bahkan ambillah pelajaran yang berharga dari peristiwa ini..
✏ Allah ingin memberikan pendidikannya kepada kita akan besarnya kekuasaan Allah...mengganti dari panas teriknya matahari menjadi dinginnya butiran2 es dalam waktu yang singkat....
✏ Allah taqdirkan kebaikan bagi yang meninggal kemarin...
€ - Dalam Safar Ibadah Haji
€ - Di bulan Haram yang dimuliakan Allah
€ - Di Baitullah al Haram
€ - Di hari Jum'at yang penuh berkah
€ - Dalam keadaan thawaf dan beribadah kepada Allah..

Sungguh kematian yang penuh nikmat....seindah2nya kematian...semoga Allah mengampuni dosanya dan memasukkannya ke dalam surgaNya. Dan bagi masih sakit karena luka2 smg Allah sembuhkan dengan segera..amiin.

Maka, saudaraku...jangan sebarkan berita2 dusta dari media2 barat atau dari sumber2 yang mencela sesama kaum muslimin...sekali lagi..ini adalah nasehat untuk kita,smg kita terhindar dari fitnah2 musuh2 Allah dan RosulNya..amiin.

Sabtu pagi
Haen 11092015
Abu Islama. Doc

👥 SAHABAT SETIA



Abû ath-Thayyib Ash-Sho'lûkî (w. 404 H), pernah berkata :

"إذا كان رضى الخلق معسوراً لايدرك، كان رضى الله ميسوراً لا ُيترك،
 إنا نحتاج إلى إخوان العُشرة  لوقت العُسرة"

"Apabila ridha makhluk itu suatu hal yang sulit tidak dapat diraih, maka ridha Allâh itu adalah suatu hal yang mudah yang tdk boleh ditinggalkan.
Sesungguhnya, kami butuh kepada saudara² yang bersahabat di waktu yang sulit."

Karena itulah, salah seorang salaf dahulu pernah mengatakan :

مودة الصديق تظهر وقت الضيق
Kesetiaan sahabat itu akan tampak di saat kesulitan

خير الصديق من يدلك على الخير
Sebaik-baik sahabat adalah yang mengarahkanmu kepada kebaikan

ومن أعانك على الشر ظلمك
Dan seseorang  yang  menolongmu di dalam keburukan maka sejatinya dia telah menzhalimimu

Inilah sahabat setia...
صديقك من صدقك لا من صدّقك
Sahabatmu adalah yg berbuat benar kpd mu, bukan yg selalu membenarkanmu

Sahabat sejati itu,
1⃣ Yang dia menginginkan dirimu berada di sampingnya, agar bisa berjalan bersama.
2⃣ Yang dia tidak ingin kau berada di belakangnya, karena takut kau tertinggal.
3⃣ Yang dia tidak ingin kau berada di depannya, sampai dia yakin bahwa jalan di depanmu aman.
4⃣ Yang tahu sifat baikmu dan ia memuji dan memeliharanya.
5⃣ Yang tahu sifat burukmu, namun ia tetap menyayangimu dan meluruskanmu.
6⃣ Yang menemanimu  di kala senang dan susah
7⃣ Yang menolongmu di saat kau berbuat kebajikan, dan mencegahmu di saat berbuat keburukan
8⃣ Yang ucapannya di depan dan belakangmu tidak berbeda
9⃣ Yang senantiasa mengharapkan kebaikan bagimu sebagaimana dia mengharapkan kebaikan untuk dirinya sendiri

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

✏ Oleh: Ust. Abu Salma Muhammad hafidzahullah

🌷 NASEHAT SALAF


🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸🔸
Imâm Al-Auzâ'î rahimahullâhu berkata :

🌾Bersabarlah dirimu di atas sunnah,
⬆ berdirilah dimana para salaf berdiri,
💬 dan berkatalah dengan apa yg mereka katakan.
🚫 Cegahlah apa yang mereka cegah
👣dan tempuhlah jalan salafmu yang shâlih,
🌱karena sesungguhnya hal ini akan melapangkan (jalan)-mu sebagaimana lapangnya (jalan) mereka.

✊🏻Iman tidaklah akan tegak kecuali dengan ucapan,
👄dan ucapan tidaklah akan tegak kecuali dengan perbuatan.
⬆ Serta tidak akan tegak keimanan, ucapan dan amalan kecuali dengan niat yang mencocoki sunnah.

🍀 Dahulu, para salaf kita tidak membeda-bedakan antara keimanan dan amal.
🌼Amal itu bagian dari keimanan dan keimanan itu dari amal.
🌹Sesungguhnya iman itu adalah nama yang komprehensif sebagaimana komprehensifnya nama agama ini, yang dibenarkan oleh amal.
👅 Siapa saja yang beriman dg lisannya dan mengakui dengan hatinya serta membenarkannya dg amaliahnya, maka inilah "ikatan tali yang kuat" itu, yang takkan terputus.
👅 Dan siapa saja yang berucap dengan lisannya, namun hatinya tdk mengakuinya dan tidak pula dibenarkan oleh amal nya, maka tidaklah akan diterima darinya, dan dia di akhirat termasuk golongan yang merugi.

📚 (Hilyatul Auliyâ VI/144)
✏ @abinyasalma
〰〰〰〰〰〰〰〰〰
قال الأوزعي رحمه الله :

"اصبر نفسك على السنة،وقف حيث وقف القوم،و قل بما قالوا،و كف عما كفوا عنه،و اسلك سبيل سلفك الصالح،فإنه يسعك ما وسعهم.و لا يستقيم الإيمان إلا بالقول،و لا يستقيم القول إلا بالعمل،و لا يستقيم الإيمان و القول و العمل إلا بالنية موافقة للسنة.و كان من مضى من سلفنا لا يفرقون بين الإيمان و العمل.العمل من الإيمان و الإيمان من العمل،و إنما الإيمان اسم جامع كما يجمع هذه الأديان اسمها،و يصدقه العمل.فمن آمن بلسانه و عرف بقلبه و صدق ذلك بعمله فتلك العروة الوثقى التي لا انفصام لها،و من قال بلسانه ولم يعرف بقلبه و لم يصدق بعمله لم يقبل منه و كان في الآخرة من الخاسرين.

(حلية الأولياء : ١٤٤/٦).

🌾AMALAN YANG SEPADAN DENGAN HAJI DAN UMROH



1. Berdiam di Masjid selepas sholat shubuh sampai terbitnya matahari, lalu sholat 2 rakaat.

👉🏻 Dalilnya : dari Anas bin Mâlik bahwa Nabi Shallallâhu alaihi wa Salam bersabda :

من صلى الغداة في جماعة ثم قعد بذكر الله حتى تطلع الشمس ثم صلى ركعتين كانت له كأجر حجة وعمرة تامة تامة تامة

"Barangsiapa sholat shubuh berjama'ah kemudian dia duduk berdzikir kepada Allâh sampai terbitnya matahari, kemudian sholat 2 rakaat, maka pahalanya seperti haji dan umroh sempurna sempurna sempurna."
(HR at-Tirmidzî dengan sanad yg shahih, di dalam Shahîh at-Tirmidzî 586, dishahihkan oleh Syaikh al-Albânî di dalam "Ash-Shahîhah" 3403)



2. Menghadiri shalat jama'ah dan berjalan kaki untuk sholat tathawwu' (sunnah)

👉🏻 Dalilnya : Dari Abî Umâmah bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

من مشى إلى صلاة مكتوبة في الجماعة فهي كححة ومن مشى إلى صلاة تطوع (في رواية أبي داود : أي صلاة الضحى)  فهي كعمرة تامة

Barangsiapa berjalan kaki utk sholat wajib berjama'ah maka ia seperti haji, dan barangsiapa berjalan kaki utk sholat sunnah (menurut riwayat Abû Dâwud, sholat dhuhâ) maka seperti umroh secara sempurna."
(HR Ahmad dg sanad shahih; lihat Shahîh al-Jâmi 6556)



3. Sholat Isya dan Shubuh berjama'ah.

👉🏻 Dalilnya : Dari Abî Dzar Radhiyallâhu anhu, beliau berkata

أن أناسا من أصحاب النبي قالوا : يا رسول الله ذهب أهل الدثور بالأجور يصلون كما نصلي ويصومون كما نصوم ويتصدقون بفضول أموالهم، فقال النبي أو ليس قد جعل الله لكم صلاة العشاء في جماعة تعدل حجة وصلاة الغداة في الجماعة تعدل عمرة.

"Bahwa ada sebagian sahabat bertanya kepada Nabi: "Wahai Rasulullah, orang² kaya datang dengan pahala besar. Mereka bisa sholat sebagaimana kami sholat dan berpuasa sebagaimana kami berpuasa, tapi mereka bisa bersedekah dengan kelebihan harta mereka."
Nabi Shallallâhu alaihi wa Salam menjawab, "Allâh telah menjadikan sholat isya berjama'ah bagi kalian sepadan pahalanya dg haji, dan sholat shubuh berjama'ah sepadan dg umroh." (HR Muslim)



4. Menghadiri majelis² ilmu di masjid

👉🏻 Dalilnya : Dari Abî Umâmah Nabi Shallallâhu alaihi wa Salam bersabda :

من غدا إلى المسجد لا يريد إلا أن يتعلم خيرا أو يعلمه كان كأجر حاج تاما حجته

Barangsiapa bersegera ke masjid, tidak menginginkan sesuatu kecuali mempelajari kebaikan atau mengajarkannya, maka pahalanya seperti haji yang sempurna hajinya."
(HR at-Thabrânî dan al-Hâkim)


5. Berdzikir selepas sholat

👉🏻 Dalilnya : Dari Abî Hurayroh beliau berkata :


جاء الفقراء إلى النبي فقالوا : ذهب أهل الدثور بالدرجات العلى والنعيم المقام، يصلون كما نصلي ويصومون كما نصوم ولهم فضل من أموال يحجون بها ويعتمرون ويجاهدون ويتصدقون، قال: إلا أحدثكم بأمر إن أخذتم به أدركتم من سبقكم ولم يدرككم أحد بعدكم وانتم خير من انتم بين ظهرانية إلا من عمل مثله: تسبحون وتحمدون وتكبرون خلف كل الصلاة ثلاثا وثلاثين

Datang sahabat Nabi dari kalangan fakir lalu mengadu, "Orang kaya pergi dengan derajat yang tinggi dan status yang mulia, mereka sholat sebagaimana kami sholat dan berpuasa sebagaimana kami berpuasa. Namun mereka memiliki keutamaan dari harta mereka sehingga mereka bisa berhaji, umroh, jihad dan sedekah dengan harta tsb."

Nabi Shallallâhu alaihi wa Salam menjawab, "Maukah kalian aku informasikan dgn suatu perkara yang jika kalian ambil (terima), kalian akan meraih (pahala) melebihi orang² yg mendahului kalian dan tidak seorang pun setelah kalian yg dapat melampaui diri kalian, dan kalian lebih baik daripada yang lainnya di antara kedua tulang punggungnya, kecuali orang yang melakukan semisalnya; yaitu kalian bertasbih, bertahmid dan bertakbir setiap selesai shalat sebanyak 33 kali." (HR Bukhârî)


6. Umroh di bulan Ramadhan

👉🏻 Dalilnya : Dari Ibnu 'Abbâs Radhiyallâhu' anhumâ bahwa Nabi Shallallâhu alaihi wa Salam bersabda kepada seorang wanita dari Anshâr yang bernama Ummu Sinân :

ما منعكِ أن تكوني حججت معنا؟ قالت: ناضحان كان لأبي فلان - زوجها- حج وهو وابنه على أحدهما وكان الآخر يسقي عليه غلامنا، قال: فعمرة في رمضان تقضي حجة - أو حجة معي

"Apa yang mencegahmu dari ikut haji bersama kami?" Ummu Sinân menjawab, "Kami hanya punya 2 ekor unta, yang satu digunakan suami saya untuk berhaji dgn Anda, dan yang satu digunakan untuk mengantar air."
Nabi Shallallâhu alaihi wa Salam menjawab, "Umroh di bulan Ramadhan itu pahalanya sepadan dengan haji - dalam riwayat lain, haji bersamaku."  (HR Muslim)


7. Berbakti kepada orang tua

👉🏻 Dalilnya : Abu Ya'lâ meriwayatkan dengan sanad yang baik bahwa ada seseorang datang kepada Rasulullah dan berkata : "Saya ingin ikut berjihad tapi saya tidak mampu."

Nabi Shallallâhu alaihi wa Salam bertanya  : "Apakah orang tuamu ada yg masih hidup?"
Dia menjawab, "ibuku (masih hidup).
Lalu Nabi bersabda :
قابل الله في برها فإن فعلت فأنت حاج ومعتمر  ومجاهد

"Tunjukkan kepada Allâh baktimu kepada ibumu, karena jika kamu telah melakukannya maka kamu seperti orang yang berhaji, umroh dan berjihad."



Wallaahu 'alam

📝 Redaksi Arab dishare oleh Ustadz Yusuf Abu Ubaidah di grup Multaqō ad-Du'ât ilallâh
✏ Dialihbahasakan oleh Abû Salmâ Muhammad
📱 @abinyasalma I abusalma.net 2015


-
setelah beberapa detik halaman akan diarahkan ke tautan Buku Amalan Sunnah.. mohon maaf atas ketidaknyamannya..

💬 CURHAT DAKWAH



✏ Oleh: Ustadz Zainal Abidin bin Syamsuddin, Lc. حفظه الله تعالى


Dahulu aku gemar baca kitab Barzanji dan Daiba'.
Dahulu aku tukang Tahlilan dan Yasinan.
Dahulu aku pelopor pemuda dan pemudi untuk acara Maulidan dan Nuzul Qur'an.

Berbagai jimat dan barang betuang aku kumpulkan dengan harapan mendapat kesaktian. Dengan bekal itu katanya bisa sukses dalam berdakwah.

Akhirnya orang pintar alias dukun aku banggakan. Baju onto kusumo, wesi kuning, keris nabi Adam, watu Kul Buntet, Cincin nabi Sulaiman dan berbagai jimat aku rawat baik-baik.

Agar aku bisa mendapat kesaktian, aku belajar ngelmu (angel ditemu) karomah dengan menghidupkan dulur limo

ADI ARI-ARI
KAKANG KAWAH
SUKMO SEJATI
RUH SEJATI
GURU SEJATI

Tempat kramat aku datangi hingga kuburan Sunan Giri aku kunjungi dengan sepeda Gunung alias Ontel saat aku umur 14 tahun yang jaraknya dari desaku ke Gresik cukup lumayan, dengan keyakinan mendapatkan barakohnya dan ketularan medan mahnit spiritual para wali.

Aku berpikir saat itu juru dakwah sukses harus sakti, harus kebal, harus bisa shalat jumat di Mekah dan seambrek Karomah.

Bahkan wali dalam benakku harus SEKTI MONDRO GUNO ORA TEDAS PALUNING PANDE OTOT KAWAT BALUNG WESI BERJAYA WIJAYAN.

Ibadah paforitku yang paling shahih adalah

Tahlilan
Yasinan
Tawasulan
Marhabaan
Shalawatan
Rasulan
Istighasahan
Tingkeban
Ruwatan

Kemudian aku mendengar ada sekolah yang gratis malah dapat bayaran.
Heran, kagum, tak masuk akal kok ada belajar model gituan.

Hati kecilku bergumam "Hebat banget......Kayak banget ya negara Saudi" bisa membuat sekolah gratis di negeri orang lain.

Cuma yang menjadi ganjalan adalah pesan para Kyai agar hati-hati terhadap tiga firqah sesat:

 Khawarij tokohnya Ibnu Taimiyah?

Rafidhah Ibnu Qayyim?

Wahabi Muhammad bin Abdul Wahhab?

Kalau masuk LIPIA hati-hati ambil bahasanya apalagi Reyalnya saring Aqidahnya.

MEMANG BENAR... PENGALAMAN SPRITUAL ORANG BEDA-BEDA

Proses penerimaan Mahasiswa ku ikuti, sambil merokok aku masuk LIPIA untuk menengok pengumuman hingga namaku masuk daftar yang diterima.

Kelas persiapan bahasa menjadi awal pengalamanku, kebat-kebit hatiku..... penasaran diriku...kayak apa sih Wahabi itu.

Aku ikuti pelajaran Aqidah dengan seksama.... tiap diskusi tauhid kita terlibat aktif... hingga tiap syubhat tauhid aku tanyakan dan gulirkan kadang membuat haduh di kelas.

Aku merasa perubahan dan peralihan agamaku amat terasa dengan pelajaran AQIDAH atau TAUHID.

Hati tersentak.....
Tatkala tahlilan dan makanan kematian diharamkan.

Maulid Nabi, Nuzul Qur'an dan Isra' miraj dibid'ahkan.

Istighatsah, tarekat, shalawat badar dan nariyah serta shalawat burdah dipersoalkan.

Membaca manaqib Syaikh Abdul Qadir, membaca berzanji dan Daiba' disalah-salahkan.

Saat di rumah kontrakan aku sering berdiskusi dan berdebat dengan kakak kelas soal amalan tradisi katanya peninggalan nenek moyang tapi menurutku ajaran para wali nan sembilan.

Berbagai jamaah dan ormas islam ku masuki untuk mengasah ketajaman agama tapi selalu tak maksimal.

Akhirnya daurah syariyah tahun dengan Syekh Ibrahim ad-Duwaisy yang diadakan Yayasan al-Sofwa, Jakarta sebagai awal perkenalan dengan para juru dakwah salafiyah.

 Hatiku tertawan dan pikiranku tersungging dengan argumen mereka terutama Syekh Ibrahim tentang penetapan masalah aqidah dan manhaj ahli sunnah.

Setelah lulus LIPIA Alhamdulillah aku bisa mendapatkan kesempatan ke Riyadh untuk mengabdi dakwah di MAKTAB JALIYAT sambil belajar di SYEKH BIN BAZ.

Menurutku yang paling membekas, berkesan, menarik dan membalikkanku setelah taufiq dari Allah dari dakwah ini adalah:

SUMBER PENGAMBILAN DALIL YANG BENAR.

METODE PENGAMBILAN DALIL YANG BENAR.

CARA MEMAHAMI AL-QUR'AN DAN AS-SUNNAH YANG BENAR.

BERAQIDAH DAN BERTAUHID SECARA BENAR.

LANDASAN DAKWAH TEGAS DAN BENAR.

Kalau akhlak dulu sudah aku pelajari.

Penyakit hati sudah amat sering dibahas dipesantrenku lewat Ihya Ulumuddin.

Rumah tangga SAMARA jamiyahku juga lebih mantap dan matang penyampaiannya.

Semangat berbisnis dan etika mencari harta para motivator kawakan lebih hebat bahkan dengan non muslim hanya bidang halal haram yang berbeda.

Yang tidak ada di jamiyah masa laluku dan ada di dakwah salafiyah dan sangat menawan hatiku adalah:

Aqidah lurus

Cara beragama benar

Tauhid bersih dari TBC

Ibadah tanpa bidah

Ikhlas menyampaikan kebenaran sunnah

Berani bicara haq dengan berbagai macam resikonya.

Sabar dan tegar dalam mengemban amanah dakwah anti syirik, anti bidah dan anti maksiat tanpa basa-basi.

Dan dalam hidupku pengalaman dakwah paling membekas adalah orang tuaku sebelum meninggal......

SUDAH MENINGGALKAN

Kebiasaan merokok yang sudah kecanduan 40 tahun.

Meninggalkan tahlilan, yasinan dan maulidan serta shalawatan hingga kebiasaan ziarah makan sunan-sunan.

Dan paling berat meninggalkan tarikat dengan berbagai hujatan.

Semoga dakwah ini dan juru dakwahnya masih tetap istiqamah dalam menyampaikan

Aqidahnya

Tauhidnya

Manhajnya

Anti syiriknya

Anti TBC nya

DENGAN TETAP MELURUSKAN NIATNYA DAN MEMPERBAIKI CARANYA

Memang berat...memang panas....memang terasing

Saat fitnah dakwah menghadang maka kita hanya bisa bersikap seperti nasehat ulama mulia.

قال الإمام الذهبي رحمه الله :

"إذا وقعت الفتن ؛
 فتمسك بالسنة
 والزم الصمت
 ولا تخض فيما لايعنيك
وماأشكل عليك فرده إلى الله ورسوله
 وقف ، وقل : الله أعلم ".

[ السير(20/141) ]

Imam Adz Dzahabi rahimahullah berkata,

"Jika terjadi berbagai fitnah, maka berpeganglah dengan As Sunnah, diamlah, dan jangan membicarakan perkara yang tidak berguna bagimu. Dan perkara apa saja yang masih musykil, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya shallallahu alaihi wa sallam serta berhentilah dan katakanlah, "Wallahu a'lam (Allah lebih mengetahui)."
(As Siyar)

Insya Allah kita dakwah

Bukan cari masa
Bukan cari popularitas
Bukan cari aman
Bukan cari senang orang
Bukan cari pujian jammaah
Bukan posisi dunia

TAPI CARI RIDHA ALLAH
INSYA ALLAH.....

BRAVO IHBS

__________
Copas dari tulisan beliau yg di kirim di group WA ملتقى الدعاة الى الله

✏Penyesalan-Penyesalan Dalam Al-Qur'an



Alloh sudah memberitahukan kepada kita tentang bagaimana kehidupan di akhirat.
Hal ini merupakan peringatan kepada semua manusia agar mempersiapkan dirinya menghadapi masa itu dengan baik dengan amal sholih sehingga tidak menyesal.
Firmannya,
يآ أيها الذين آمنوا اتقوا الله ولتنظر نفس ما قدمت لغد.
"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Alloh dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk esok hari (akhirat)."(Al-Hasyr: 18)

Berikut ini penyesalan-penyesalan di akhirat sebagai akibat dari amalan-amalan manusia di dunia yang kami nukil dari artikel Ust. Abdulloh Hadhromy حفظه الله.

✒Penyesalan dengan redaksi "Ya Laitani":

1. Penyesalan orang-orang munafik setelah menyaksikan kemenangan dan kejayaan orang-orang beriman:

"Wahai kiranya saya ada bersama-sama mereka, tentu saya mendapat kemenangan yang besar (pula)".
[Surat 4 An-Nisa', ayat 73]

2. Penyesalan orang yang menyekutukan Allah setelah menyaksikan kerugiannya:

"Aduhai kiranya dulu aku tidak mempersekutukan seorangpun dengan Tuhanku".
[Surat 18 Al-Kahfi, ayat 42]

3. Penyesalan orang yang menyimpang dari ajaran Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam pada hari kiamat nanti:

"Aduhai kiranya (dulu) aku mengambil jalan bersama-sama Rasul".
[Surat 25 Al-Furqon, ayat 27]

4. Penyesalan orang yang salah dalam memilih sahabat sehingga menjadikannya menyimpang dari ajaran Rasulullah Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam pada hari kiamat nanti:

"Kecelakaan besarlah bagiku; kiranya aku (dulu) tidak menjadikan sifulan itu teman akrab(ku)."
[Surat 25 Al-Furqon, ayat 28]

5. Penyesalan orang menerima catatan amalnya dengan tangan kirinya pada hari kiamat nanti karena amal buruknya ketika di dunia:

"Adapun orang yang diberikan kepadanya kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: "Wahai alangkah baiknya kiranya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini)."
[Surat 69 Al-Haqqoh, ayat 25]

6. Penyesalan orang kafir pada hari kiamat nanti karena dibakar di neraka selamanya:

 "Alangkah baiknya sekiranya aku dahulu adalah tanah".
[Surat 78 An-Naba', ayat 40]

7. Penyesalan pada hari kiamat karena kurang dalam beramal kebaikan:

"Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan (amal saleh) untuk hidupku ini".
[Surat 89 Al-Fajr, ayat 24]


Penyesalan dengan redaksi "Ya Laitana":

8. Penyesalan ahli neraka:

"Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi orang-orang yang beriman".
[Surat 6 Al-An'am, ayat 27]

9. Penyesalan karena tidak taat kepada Allah dan RasulNya Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa 'Ala Alihi Wa Sallam:

"Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul".
[Surat 33 Al-Ahzab, ayat 66]

Semuanya adalah harapan dan penyesalan yang telah terlambat pada saat itu..!

Saat ini, ketika kita masih di dunia dan ketika jiwa di kandung badan, kita masih bisa memperbaikinya.. Masih ada waktu dan kesempatan untuk menjadi orang baik dan menutup umur dengan yang terbaik, husnul khotimah..

Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tiada guna..

Oleh: Ust. Abu Yusuf Masruhin

🌴🌿..🍒..✏✒✏..🍒..🌿🌴

-

MENELADANI SYAIKH AL-ALBANI



Dari Admin Da’wah Al-Hanif@WA: Kami copy dari status fanpage facebook Yayasan Al-Hanif Cilegon di tahun 2013

Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizohullah berkata :
"Guru kami (Syaikh Al-Albani) rahimahullah menugaskan aku untuk memuroja'ah (memeriksa kembali) beberapa juz dari kitab As-Silsilah Ad-Dho'ifah sebelum dicetak. Lalu iapun menyerahkan jilid ke lima dari kita As-Silsilah Ad-Dho'ifah. Lalu akupun mengambil kitab tersebut yang ditulis dengan tulisan tangan beliau sebelum dicetak. Tatkala aku mengeluarkannya dari kantong dan aku melihat kitab tersebut maka akupun menangis.
Maka syaikh rahimahullah bertanya kepada ; "Kenapa engkau?"
Aku diam tidak menjawab, dan syaikh melihat air mataku mengalir.
Ternyata syaikh rahimahullah menulis kitab "Silsilah Al-Ahaadiits Ad-Dho'ifah" jilid ke lima pada kertas-kertas hadiyah, dan kantong-kantong kertas gula dan beras, yaitu bungkusan-bungkusan yang berwarna merah yang digunakan orang-orang untuk menimbang gula dan beras.

Syaikh berkata kepadaku : "Saya punya benang-benang yang saya celupkan ke tinta lalu aku letakan benang-benang tersebut di atas kertas-kertas, sehingga kertas-kertas tesebut menjadi bergaris-garis. Aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas"
Semoga Allah merahmati engkau yang telah menghabiskan umur untuk membela sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
(sumber :http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=27279)

Saya (Firanda) jadi teringat dengan cerita Syaikh Abdurrozzaq hafizohulloh tatkala beliau diuji tentang tesis beliau, dan dosen penguji tatkala itu adalah Syaikh Sholeh Al-Fauzaan hafizohulloh. Syaikh Sholeh Al-Fauzan mengkritik Syaikh Abdurrozzaq yang telah mengkhususkan satu halaman hanya untuk menulis kalimat (بسم الله الرحمن الرحيم). Syaikh Sholeh Al-Fauzan menganggap hal itu adalah bentuk mubadzdzir.

Syaikh Abdurrozzaq bercerita bahwa dahulu kertas mahal dan sulit untuk didapat, sehingga beliau melihat tulisan ayah beliau syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafizohulloh sampai diujung-ujung kertas. Tidak ada bagian kertas yang tersisa kosong, semuanya terisi tulisan. (Copy dari status Ustadz Firanda hafizhahullaah)

SYAIKH AL ALBANI MENYALIN KITAB

Syaikh Al Albani rahimahullah pernah bercerita: “Bahwasanya ni’mat Allah yang dianugerahkan kepadaku sangat banyak, aku tidak mampu menghitungnya. Di antara ni’mat-ni’mat itu ada dua hal yang sangat penting: pertama, hijrah ayahku ke negeri Syam (beliau adalah orang Albania, negara non Arab dan bahasa yang digunakannyapun bukan bahasa Arab-pen.) dan yang kedua aku diajari sebuah profesi ayahku yang dimilikinya yaitu keterampilan mereparasi jam. Ni’mat yang pertama telah memudahkanku untuk belajar bahasa Arab, seandainya kami tetap di Albania aku kira tidak akan mempelajarinya walaupun hanya satu huruf. Padahal tiada jalan menuju Kitabulloh (al-Qur-an) dan Sunnah Rosulullah kecuali dengan bahasa Arab. Ni’mat yang kedua (yakni keahlian mereparasi jam) telah memberi aku waktu senggang yang aku isi dengan menuntut ilmu, serta kesempatan beberapa jam setiap hari untuk mengunjungi perpustakaan “Zhahiriyyah” (perpustakaan di kota Damsyik atau Damascus, Syiria). Seandainya aku terus menekuni upaya untuk menjadi seorang pandai kayu, tentunya akan menyita seluruh waktuku. Akibatnya tertutuplah jalan-jalan di hadapanku untuk mencapai ilmu, karena setiap penuntut ilmu harus banyak menyiapkan waktu.”

Selanjutnya beliau berkata: “Sesuatu yang telah diatur oleh Allah dan sebagai kasih sayangnya kepadaku, setelah aku beralih profesi dan mendampingi ayahku, aku miliki banyak waktu luang. Aku mohon izin kepada ayahku untuk menghadiri kajian-kajian di masjid Bani Umayyah. Suatu ketika di waktu senggang, Allah mentakdirkan bagiku bertemu dengan seorang Mesir. Pekerjaannya membeli kitab-kitab lama lalu dipajangnya pada sebuah toko kecil miliknya yang terletak di depan pintu barat masjid. Aku sering meihat buku-buku tersebut dan menemukan kisah-kisah yang kusukai, kupinjam darinya dengan memberi upah lalu mengembalikannya.

Suatu hari aku jumpai beberapa edisi majalah ‘Al Manar’ di antara kitab-kitab pajangannya. Ketika kubaca, aku dapati sebuah tulisan Sayyid Rasyid Ridha. Ia membahas sisi positif kitab ‘Ihya Ulumuddin karya
Al Ghozali, dan mengkritiknya dari beberapa segi seperti masalah Tasawwuf dan hadits-hadits dho’if. Beliau juga menyebutkan bahwa Abu Fadhl Zainuddin al- Iraqi mempunyai sebuah kitab mengenai ‘Ihya Ulumuddin, meneliti hadits-haditsnya serta memisahkan antara yang shohih dan yang dho’if. Nama kitabnya Al Mughni ‘an hamlil Asfar fil Asfar fi Takhrij ma fil Ihya minal Akhbar.

Aku sangat berminat memiliki buku ini oleh sebab itu aku pergi ke pasar untuk mencarinya, ibarat seorang yang jatuh cinta dan bingung karena sedih. Aku temukan buku tersebut pada seorang penjual kitab namun pada saat itu aku seorang yang faqir seperti ayahku, tidak mampu membelinya. Maka aku bersepakat dengan pemiliknya untuk menyewanya, kubawa buku itu dan seolah-olah aku ingin terbang karena sangat gembira. Kembalilah aku ke toko dan kumanfaatkan untuk membacanya dengan konsentrasi di saat ayahku sedang pergi.

Kemudian timbul keinginanku untuk menyalin isi buku tersebut, maka aku beli beberapa lembar kertas dan mulailah untuk menyalinnya. Hingga sekarang salinan kitab tersebut masih tersimpan sebagai sebuah manuskrip.” (Subhanallah! Lihatlah runtutan peristiwa yang terjadi pada Syaikh Al Albani: tidak punya uang untuk membeli kitab kemudian menyewa dan akhirnya menyalin kitab tersebut! MENYALIN KITAB! Sungguh luar biasa!) (Biografi Syaikh Al Albani, Ustadz Mubarok Bamuallim)

DETIK-DETI WAFATNYA SANG IMAM rahimahullaah

Sejak tiga tahun sebelum wafatnya, Imam Al Albani rahimahullah telah mengidap beberapa penyakit, salah satunya adalah liver ditambah usianya yang telah lanjut. Penyakit yang dideritanya cukup serius namun demikian tidak menghalanginya membaca dan membahas hingga saat-saat terakhir kehidupannya.
Syaikh Ali bin Hasan al Halabi hafizhahullah menuturkan: “Kurang lebih sebulan sebelum wafatnya, Syaikh Al Albani menelepon saya meminta sebuah tafsir al Qur-an yang telah lenyap dari ingatannya. Demikian pula kepada anak-anaknya beliau meminta kitab ‘Shahih Sunan Abu Dawud.’”

Pada kesempatan lain Syaikh Al Ali hafizhahullah berkata: “ Sebulan sebelum wafatnya, Syaikh Al Albani rahimahullah membahas sebuah hadits selama tiga hari, beliau menyuruh ‘Ubadah (salah seorang cucunya) untuk menulis ucapan atau keterangan beliau dalam delapan belas halaman, dan aku ikut menyaksikan kejadian itu.”

Syaikh Muhammad bin Ibrahim Syuqrah mengungkapkan: “ Syaikh Al Albani rahimahullah tidak pernah berhenti membahas, jika ingin menulis sesuatu ia berkata (kepada anak atau cucu beliau): “ Tulislah ya ‘Abdul Lathif ! Tulislah ya Ubadah! Tulislah ya Lu’ai!”
Syaikh Abul Hasan menuturkan: “Mereka yang menemani beliau ketika sakit mendengarnya berkata ketika sedang tidur: ‘Berikan kitab al Jarh wat Ta’dil jilid sekian halaman sekian..dan kitab lain yang disebutnya, demikian cintanya terhadap ilmu di waktu terbangun hingga dibawa tidur. Semoga Allah merahmatinya.”
Sedangkan Syaikh ‘Ali Khasysyan menceritakan: “Beberapa hari sebelum wafat, jika sadar dari sakit yang dideritanya beliau berkata: ‘Berikan kitab al Jarh jilid yang kedua. Demikianlah keadaanya. Benarlah sebuah pepatah mengatakan:
كُلُّ إِنَاءٍ بِمَا فِيْهِ يَنْضَح
“Setiap bejana memercikkan isi yang ditampungnya”
Dari Buku Karya Ustadz Mubarok Bamuallim: Biografi Syaikh Al Albani

© Da'wah Al-Hanif@WA
+6281311497942

Sebab sebab yang bisa menjadikan manusia di laknat oleh Allah ta'ala

Kajian Ustadz. Fuad Hamzah Baraba, Lc

Sebab sebab yang bisa menjadikan manusia di laknat oleh Allah ta'ala
1. Orang orang yang menjadikan kuburan kuburan sebagai masjid
2. Menyembelih binatang bukan karena Allah ta'ala
3. Anak yang melaknat orang tuanya baik secara langsung atau tidak
4. Orang orang yang melindungi dan mendukung pelaku bid'ah
5. Orang orang yang mencela shahabat Nabi
6. Anak yang durhaka kepada kedua orang tuanya dan memutus tali silaturahim
7. Orang orang yang menyembunyikan kebenaran
8. Orang orang yang mati dalam keadaan murtad/kafir
9. Orang yang membunuh jiwa seorang muslim dengan sengaja kecuali dengan haq
10. Orang yang membuat keonaran dan kerusakan dikota Madinah
11. Orang yang bermuamalah dengan sistem riba
12. Orang yang mengubah batasan tanah
13. Wanita/istri yang menolak ajakan suami tanpa udzur
14. Suami yang menggauli istrinya melalui dubur
15. Orang yang menggauli binatang
16. Pelaku liwath penyuka sesama jenis
17. Orang yang mencuri harta milik orang lain
18. Orang yang melakukan praktek suap baik yang menyuap maupun yang disuap
19. Wanita yang menyambung rambut dan yang minta disambung rambutnya
20. Wanita yang mentato juga yang minta ditato
21. Wanita yang mencabut/mencukur bulu alisnya dan merenggangkan giginya
22. Laki laki yang menyerupai wanita ataupun sebaliknya baik dari pakaian tingkah laku dsb
Wallahu a'lam

✔MUHARRAM (SURO) BULAN KERAMAT ?


Oleh
Ustadz Abu Nu’aim Al-Atsari
http://almanhaj.or.id/content/2036/slash/0/muharram-suro-bulan-keramat/

Muharram (Suro) dalam kacamata masyarakat, khususnya Jawa, merupakan bulan keramat. Sehingga mereka tidak punya keberanian untuk menyelenggarkan suatu acara terutama hajatan dan pernikahan. Bila tidak di indahkan akan menimbulkan petaka dan kesengsaraan bagi mempelai berdua dalam mengarungi bahtera kehidupan. Hal ini diakui oleh seorang tokoh keraton Solo. Bahkan katanya : “Pernah ada yang menyelenggarakan pernikahan di bulan Suro (Muharram), dan ternyata tertimpa musibah!”. Maka kita lihat, bulan ini sepi dari berbagai acara. Selain itu, untuk memperoleh kesalamatan diadakan berbagai kegiatan. Sebagian masyarakat mengadakan tirakatan pada malam satu Suro (Muharram), entah di tiap desa, atau tempat lain seperti puncak gunung. Sebagiannya lagi mengadakan sadranan, berupa pembuatan nasi tumpeng yang dihiasi aneka lauk dan kembang lalu di larung (dihanyutkan) di laut selatan disertai kepala kerbau. Mungkin supaya sang ratu pantai selatan berkenan memberikan berkahnya dan tidak mengganggu. Peristiwa seperti ini dapat disaksikan di pesisir pantai selatan seperti Tulungagung, Cilacap dan lainnya.

Acara lain yang menyertai Muharram (Suro) dan sudah menjadi tradisi adalah kirab kerbau bule yang terkenal dengan nama kyai slamet di keraton Kasunanan Solo. Peristiwa ini sangat dinantikan oleh warga Solo dan sekitarnya, bahkan yang jauhpun rela berpayah-payah. Apa tujuannya ? Tiada lain, untuk ngalap berkah dari sang kerbau, supaya rizki lancar, dagangan laris dan sebagainya. Naudzubillahi min dzalik. Padahal kerbau merupakan simbol kebodohan, sehingga muncul peribahasa Jawa untuk menggambarkannya : “bodo ela-elo koyo kebo”. Acara lainnya adalah jamasan pusaka dan kirab (diarak) keliling keraton.

Itulah sekelumit gambaran kepercayaan masyarakat khususnya Jawa terhadap bulan Muharram (Suro). Mungkin masih banyak lagi tradisi yang belum terekam disini. Kelihatannya tahayul ini diwarisi dari zaman sebelumnya mulai animisme, dinamisme, hindu dan budha. Ketika Islam datang keyakinan-keyakinan tersebut masih kental menyertai perkembangannya. Bahkan terjadi sinkretisasi (pencampuran). Ini bisa dicermati pada sejarah kerajaan-kerajaan Islam di awal pertumbuhan dan perkembangan selanjutya, hingga dewasa ini ternyata masih menyisakan pengaruh tersebut.

Namun kepentingan kepada Muharram (Suro) ini tidak dimonopoli oleh suku atau bangsa tertentu. Syi’ah umpamanya, -mayoritas di Iran, meskipun di Indonesia sudah meruyak di berbagai sudut kota dan desa-, memiliki keyakinan tersendiri tentang Muharram (Suro). Terutama pada tanggal 10 Muharram, mereka mengadakan acara akbar untuk memperingati dan menuntut bela atas meninggalnya Al-Husain bin Ali bin Abi Thalib di Karbala. Seperti dikatakan oleh Musa Al-Musawi tokoh ulama mereka : “Belum pernah terjadi sepanjang sejarah adanya revolusi suci yang dikotori kaum Syi’ah dengan dalih mencintai Husain” Perbuatan buruk itu setiap tahun masih terus dilakukan kaum Syi’ah, terutama di Iran, Pakistan, India dan Nabtiyah di Libanon. Peristiwa ini sempat menimbulkan pertikaian berdarah antara Syi’ah dan Ahlus Sunnah di beberapa daerah di Pakistan yang menelan korban ratusan jiwa yang tidak bersalah dari kedua belah pihak.[1]

Dikatakan pula : “Orang-orang Syi’ah setiap bulan Muharram memperingati gugurnya Imam Husain di Karbala tahun 61H, peringatan tersebut dilakukan dengan cara berlebih-lebihan. Dari tanggal 1 Muharram sampai 9 Muharram diadakan pawai besar-besaran di jalan-jalan menuju ke Al-Husainiyah. Peserta pawai hanya mengenakan sarung saja sedang badanya terbuka. Selama pawai mereka memukul-mukul dada dan punggungnya dengan rantai besi sehingga luka memar. Acara puncak dilakukan dengan melukai kepala terutama dahinya sehingga berlumuran darah. Darah yang mengalir ke kain putih yang dikenakan sehingga tampak sangat mencolok. Suasana seperti itu membuat mereka yang hadir merasa sedih, bahkan tidak sedikit yang menangis histeris.[2]

Mengapa mereka begitu ekstrim ? Karena ziarah ke kuburan Al-Husain merupakan amalan yang mereka anggap paling mulia. Dalam kitab mereka semisal Furu’ul Kafi oleh Al-Kulani, Man La Yahdhuruhul Faqiihu oleh Ibnu Babawih dan kitab lainnya, diriwayatkan : “… Barangsiapa mendatangi kubur Al-Husain pada hari Arafah dengan mengakui haknya maka Allah akan menulis baginya seribu kali haji mabrur, seribu kali umrah mabrur dan seribu kali peperangan bersama Nabi yang diutus dan imam yang adil”. Dalam kitab Kamiluzarat dan Bahirul Anwar disebutkan “ Ziarah kubur Al-Husain merupakan amalan yang paling mulia”, riwayat lainnya, “Termasuk amalan yang paling mulia adalah ziarah kubur Al-Husain”. Bahkan Karbala itu lebih mulia dibanding Makkah Al-Mukaramah. Karena Al-Husain dikuburkan di disana.[3]

MUHARRAM (SURO) DALAM PANDANGAN ISLAM
1. Muharram Adalah Bulan Mulia
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman.

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِندَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنفُسَكُمْ

“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu” [at-Taubah/9 : 36]

Imam Ath-Thabari berkata : “Bulan itu ada dua belas, empat diantaranya merupakan bulan haram (mulia), dimana orang-orang jahiliyah dahulu mengagungkan dan memuliakannya. Mereka mengharamkan peperangan pada bulan tersebut. Sampai seandainya ada seseorang bertemu dengan orang yang membunuh ayahnya maka dia tidak akan menyerangnya. Bulan empat itu adalah Rajab Mudhor, dan tiga bulan berurutan, yaitu Dulqqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram.

Imam Al-Baghawi berkata : “Janganlah kalian berbuat dholim pada semua bulan (dua belas bulan) tersebut dengan melakukan kemaksiatan dan melalaikan kataatan”. Ada yang berpendapat bahwa kalimat “fiihinna” maksudnya adalah empat bulan haram tersebut. Qotadah berkata : “Amalan shalih pada bulan haram pahalanya sangat agung dan perbuatan dholim di dalamnya merupakan kedholiman yang besar pula dibanding pada bulan selainnya, walaupun yang namanya kedholiman itu kapanpun merupakan dosa yang besar”. Ibnu Abbas berkata : “Janganlah kalian berbuat dholim pada diri kalian, yang dimaksud adalah menghalalkan sesuatu yang haram dan melakukan penyerangan”. Muhammad bin Ishaq bin Yasar berkata : “Janganlah kalian menghalalkan sesuatu yang haram dan mengharamkan yang halal, seperti perbuatan orang-orang musyrik yaitu mengundur-undurkan bulan haram (yaitu pada bulan Safar)’ [4]

Termasuk kemuliaan bulan-bulan haram adalah dilarangnya peperangan pada bulan tersebut. Hanya saja larangan ini dimansukh (dihapus) hukumnya menurut jumhur ulama. Karena di dalam Islam peperangan itu terbagi menjadi dua, diijinkan dan dilarang. Peperangan yang dijinkan dibolehkan bila adanya sebab. Sedangkan peperangan yang haram itu dilarang kapan saja. Maka tidak ada lagi keistimewaan bagi bulan-bulan haram kecuali sebatas kemulyaan yang sudah ditentukan pada hari-hari sebelumnya yaitu terbatas pada waktu-waktu yang utama.

Pada bulan Muharram ini terdapat hari yang pada hari itu terjadi peristiwa yang besar dan pertolongan yang nyata, menangnya kebenaran mengalahkan kebathilan, dimana Allah telah menyelamatkan Musa ‘Alaihissallam dan kaumnya dan menenggelamkan Fir’aun dan kaumnya. Hari tersebut mempunyai keutamaan yang agung dan kemuliaan yang abadi sejak dulu. Dia adalah hari kesepuluh yang dinamakan Asyura.[5].

2. Disyariatkan Puasa Asyura
Berdasarkan hadits-hadist berikut ini.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَ بِصِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ كَانَ مَنْ شَاءَ صَامَ وَمَن شَاءَ أَفْطَرَ

“Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan untuk berpuasa Asyura, tatkala puasa Ramadhan diwajibkan, maka bagi siapa yang ingin berpuasa puasalah, dan siapa yang tidak ingin, tidak usah berpuasa” [Hadits Riwayat Bukhari 2001]

أَنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمَّا قَدِمِ الْمَدِيْنَةَ وَجَدَهُمْ يَصُو مُونَ يَومًا يَعْنِيع عَاشُورَاءَ فَقَالُا هَذَا يَوْمٌ عَظِيْمُ وَهُوَ يَومٌ نَجِّى اللَّهُ فِيهِ مُوسَى وَأَغرَقَ آلَ فِرْ عَوْنَ فَصَامَ مُوسَى شُكْرًا لِلَّهِ فَقَالَ أَنَا أوْلَى بِمُوسَى مِنْهُمْ فَصَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَا مِهِ

“Tatkala Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka mengatakan :”Hari ini adalah hari yang agung dimana Allah telah menyelamatkan Musa dan menenggelamkan pasukan Fir’aun, lalu Musa berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur kepada Allah”. Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ; “Saya lebih berhak atas Musa dari pada mereka”, lalu beliau berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa pada hari itu” [Hadits Riwayat Bukhari 3397]

Keutamaan Puasa Asyura

عَن ابْنَ عَبَاسٍ رَضِي اللّه عَنْهُمَا وسُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا عَلِمْتُ أَنَّ رَسُولُ اللّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَامَ يَوْمَا يَطْلُبُ فَضْلَهُ عَلَى الاًيا مِ إِلاّ هَذَا الْيَوْم وَلاَ شَهْرًا إِلاَّ هَذَا الشَّهْرَ يَعْنِي رَمَضَانَ

“Ibnu Abbas Radhiyalahu anhu ditanya tentang puasa Asyura, jawabnya : “Saya tidak mengetahui bahwa Rasulullah puasa pada hari yang paling dicari keutamaannya selain hari ini (Asyura) dan bulan Ramadhan” [Hadits Riwayat Bukhari 1902, Muslim 1132]

Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu, berdasarkan hadits berikut.

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَومِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang puasa Asyura, jawabnya : “Puasa Asyura menghapus dosa setahun yang lalu” [Hadits Riwayat Muslim 1162, Tirmidzi 752, Abu Daud 2425, Ibnu Majah 1738, Ahmad 22031]

Asyura Adalah Hari Kesepuluh

عَنْ عَبْدَ اللَّهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ حِينَ صَامَ رَسُولُ اللّهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ قَالُوا يَا رَسُولُ اللَّهِ اِنَّهُ يَوْمٌ تُعَظَّمُهُ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَإِذَا كَانَ الْعَامُ الْمُقْبِلُ اِن شَاءَ اللَّهُ صُمْنَا الْيَوْمَ التَّاسِعَ قَالَ فَلَم يَأْيِ الْعَامُ الْمُقْبِلُ حَتَّى تُوْفِّيَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu : Tatkala Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa, para sahabat berkata : “Wahai Rasulullah ini adalah hari yang diagungkan oleh Yahudi dan Nashara”, Maka beliau bersabda : “Tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan”. Ibnu Abbas berkata : “Tahun berikutnya belum datang Rasulullah keburu meninggal” [Hadits Riwayat Muslim 1134, Abu Daud 2445, Ahmad 2107]

Imam Nawawi berkata : “Jumhur ulama Salaf dan khalaf berpendapat bahwa hari Asyura adalah hari kesepuluh. Yang berpendapat demikian diantaranya adalah Sa’id bin Musayyib, Al-Hasan Al-Bashri, Malik bin Anas, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih dan banyak lagi. Pendapat ini sesuai dengan (dzahir) teks hadits dan tuntutan lafadnya.

Hanya saja Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berniat untuk berpuasa hari kesembilan sebagai penyelisihan terhadap ahlul kitab, setelah dikhabarkan kepada beliau bahwa hari tersebut diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nashara. Oleh karena itu Imam Nawawi berkata : “ Asy-Syafi’i dan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq dan selainnya berpendapat ; Disunnahkan untuk berpuasa hari kesembilan dan kesepuluh karena Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berpuasa hari kesepuluh serta berniat untuk puasa hari kesembilan. Ulama berkata : “Barangkali sebab puasa hari kesembilan bersama hari kesepuluh adalah agar tidak menyerupai orang-orang Yahudi jika hanya berpuasa hari kesepuluh saja. Dan dalam hadits tersebut memang terdapat indikasi ka arah itu” [Syarah Shahih Muslim 9 hal. 205]

Al-Allamah Muhammad Shidiq Hasan Khan berkata : “Mayoritas ulama menyunnahkan untuk berpuasa pada hari sebelumnya” [6]

Namun dalam masalah ini ulama berselisih. Selain ada yang berpendapat seperti diatas, sebagian ulama berpendapat hendaknya berpuasa satu hari sebelum dan sesudahnya berdasarkan hadits.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صُومُا يَوْمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا فِيهِ الْيَهُودَ صُومُوا قَبْلَهُ يَوْمًاأَوبَعْدَهُ يَوْمًا

“Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Berpuasalah hari Asyura dan berbedalah dengan orang Yahudi, (dengan) berpuasalah hari sebelumnya dan sesudahnya” [Hadits Riwayat Ahmad 2155]

Seperti dikemukakan oleh Ibnul Qayyim dalam Zadul Ma’ad 2 hal.76 dan Al-Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Baari 4 hal. 772. Hanya saja hadits tersebut di dhoifkan oleh beberapa ulama seperti Imam Syaukani dalam Nailul Author 2 hal. 552. Kata beliau : “Riwayat Ahmad ini dho’if mungkar, diriwayatkan dari jalan Dawud bin Ali dari bapaknya, dari kakeknya. Ibnu Abi Laila juga meriwayatkan dari Dawud bin Ali ini” Al-Mubarakfuri menukil perkataan Imam Syaukani ini dalam Tuhfatul Ahwadzi 3 hal. 383. Imam Al-Albani juga mendho’ifkannya dalam ta’liq Shahih Ibnu Khuzaimah yang dinukil oleh Syaikh Muhammad Musthofa Al-Adzami dalam tahqiq Shahih Ibnu Khuzaimah juz 3 hal.290. Syaikh Syu’aib dan Abdul Qadir Al-Arnauth dalam tahqiq kitab Zadul Ma’ad 2 hal. 69. Maka yang rajih adalah pendapat pertama yaitu disunnahkan untuk berpuasa satu hari sebelumnya.

Kesimpulannya bahwa bulan Muharram atau dikenal dengan Suro merupakan bulan yang mulia. Maka tidak sepantasnya apabila kaum muslimin mempunyai anggapan miring terhadapnya, dengan menjadikan sebagai bulan keramat. Sehingga menyeret mereka jatuh ke lembah kesyirikan, dengan melakukan acara-acara cerminan dari keyakinan mereka yang keliru. Akibatnya dosa yang disandang semakin banyak karena dilakukan pada bulan yang mulia.

3. Koreksi Terhadap Kepercayaan Masyarakat Seputar Muharram (Suro).
Telah dipaparkan diatas, keyakinan sebagian masyarakat seputar Muharram (Suro). Benarkah keyakinan seperti itu ? Jawabnya : Keyakinan di atas adalah salah. Karena mereka menyandarkan nasib mereka, bahagia dan celaka kepada masa, waktu. Padahal waktu atau masa tidak kuasa memberikan apa-apa. Jadi mereka telah jatuh ke dalam perkara yang di haramkan atau kesyirikan. Allah Subhanahu wa Ta'ala mengkhabarkan keyakinan orang-orang kafir dan orang-orang musyrikin.

وَقَالُوا مَا هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنْيَا نَمُوتُ وَنَحْيَا وَمَا يُهْلِكُنَا إِلَّا الدَّهْرُ ۚ وَمَا لَهُمْ بِذَٰلِكَ مِنْ عِلْمٍ ۖ إِنْ هُمْ إِلَّا يَظُنُّونَ

“Dan mereka berkata : “Kehidupan ini tidak lain hanyalah kehidupan dunia saja, kita mati dan kita hidup, tidak ada yang membinasakan kita selain masa. Dan sekali-kali mereka tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga” [Al-Jatsiyah/45: 24]

Oleh karenanya keyakinan bahwa bulan Muharram (Suro) merupakan bulan keramat atau petaka, tidak terlepas dari dua hal bisa haram atau jatuh ke dalam kesyirikan. Belum lagi acara-acara yang menyertainya semisal nyadran ke pantai selatan, jamasan pusaka, kirab kerbau untuk dimintai berkahnya. Tidak diragukan lagi semua itu merupakan syirik besar.

Diantara perkara bathil yang terdapat pada bulan Muharram, seperti dituturkan oleh Ibnul Qayyim : “Diantara hadits-hadits yang bathil adalah hadits tentang memakai celak pada hari Asyura, berhias, banyak berinfak kepada keluarga, shalat dan amalan-amalan lainnya yang mempunyai fadhilah. Padahal tidak ada satupun hadits yang shahih berkaitan dengan amalan tadi. Hadits-hadits yang shahih hanya berkisar mengenai puasa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam. Selain itu semuanya bathil.

Termasuk perkara yang bathil, menjadikan Asyura sebagai hari penyiksaan dan kesedihan. Ini adalah bid’ah dan mungkar. Ibnu Rajab dalam Latha’iful Ma’arif mengatakan : “Adapun dijadikannya hari Asyura sebagai acara jamuan makan seperti dilakukan oleh Syi’ah Rafidhah, karena untuk memperingati terbunuhnya Al-Husain bin Ali, maka ini termasuk amalan orang yang amalannya sia-sia sedangkan dia menyangka telah berbuat kebaikan. Allah dan RasulNya tidak memerintahkan untuk menjadikan hari dimana para nabi tertimpa musibah dan kematiannya sebagai jamuan makan, apalagi orang selain mereka?!” [7]

Bila pada bulan haram amalan shalih dibalas dengan berlipat demikian pula balasan bagi perbuatan maksiat, juga berlipat. Allahu a’lam

[Disalin (secara ringkas) dari Buletin Dakwah Al-Furqon Edisi 6 Th 1 Muharram 1422/Maret-April 2002. Diterbitkan Lajnah Dakwah Ma’had Al-Furqon, Alamat Ponpes Al-Furqon Al-Islami Srowo, Sidayu Gresik]
_______
Footnote
[1]. Lihat Mengapa Kita Menolak Syi’ah, LPPI hal. 85
[2]. Lihat Mengapa Kita Menolak Syi’ah, LPPI hal. 51
[3]. Lihat Ushul Madzhab Asy-Syiah Al-Imamiyah Al-Itsna Asyriyah Dr Nashir Al-Qifari, hal. 460-464
[4]. Ma’alimut Tanzil 4/44-45
[5]. Durusun ‘Aamun, Abdul Malik Al-Qasim, hal.10
[6]. Sailul Jarar Juz 2 hal. 148
[7]. Durusun Aamun, Abdul Malik Al-Qasim hal. 11-12
©almanhaj//مجانا/Free/

SAUDARIKU BERHIASLAH DENGAN 'IFFAH

🌾🌹🌾🌹🌾🌹🌾🌹🌾


Ustadzah Ari Mardiah Joban
➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖

🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺
'Iffah secara bahasa : Menahan
Pengertian Iffah : Mensucikan diri, menahan diri dari hal2 yg dibenci/diharamkan oleh Allah dan juga menahan diri dari meminta-minta kepada manusia.
Orng yg memiliki Iffah dpt menahan dan menguasai dirinya dari syahwat serta bersabar thd hal2 yg d benci oleh Allah Subhanahu wa ta'ala.

Diantara dalil2 yg menganjurkan kita utk memiliki sifat Iffah :

🌷 QS An Nisaa: ayat 6
🌷 Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam : Apa yg ada pd diriku dari kebaikan (harta) tdk ada yg aku simpan dari kalian. Dan barang siapa yg menahan diri dari meminta-minta, maka Allah akan menjaganya. Dan barang siapa yg merasa cukup, maka Allah akan memberi kecukupkan kepadanya, dan barang siapa menyabarkan dirinya maka Allah akan menjadikanya sabar. Tidaklah kalian diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran (HR. Al-Bukhori no.6470 dan Muslim no.1053).

Bentuk2 Iffah :
1⃣ Iffah anggota tubuh
Cth :
🌷 Mulut : tdk bicara kecuali yg baik2, tdk ghibah, namimah.dll
🌷 Mata : tdk melihat kecuali yg d  halalkan oleh Allah
🌷 Kemaluannya : hanya diberikan kpd orng yg berhak

2⃣ Iffah dlm mencari harta yg halal
Ada 2 pertanyaan ttng harta, yaitu "dari mana " & "untuk apa"
Kecelakaan/musibah yg cukup besar jika orng2 tergelincir mengenai 2 pertanyaan tsb.
Juga menjauhkan diri dari harta sedekah.
Hadist Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam lewat dan menemukan kurma dijalan, beliau bersabda " Jika saya tdk takut kurma ini sedekah, maka niscaya kurma ini akansaya makan" (HR. Al-Bukhori).

Dalil yang menunjukkan iffah jg terdapat dlm QS Al Baqarah ayat 273)

Juga d anjurkan utk Qona'ah. Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam " Sungguh telah beruntung, orng yg dlm keadaan Islam, yang diberi kecukupan rezeki dan Allah jdikan dia (Qona'ah)  puas menerima seberapapun yang dianugerahkan Allah kpdnya.

3⃣ Iffah dr terjerumus perbuatan yg keji
Cth : berusaha menjauhi dr hal2 yg mendatangkan fitnah

Pentingnya seorang wanita memiliki sifat Afiffah :
Sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam "Tidaklah aku meninggalkan sesuatu setelahku  yg lbh berbahaya bagi laki2 dari seorang wanita"
Wanita yg menjaga Iffah akan terhindar dari kehancuran, dan akan baik pula masyarakatnya.

Sebab2 yg hrs d perhatikan utk mjd wanita yg Afiffah :
1⃣ Berdo'a meminta pertolongan & ketaqwaan kpd Allah Ta'ala.
2⃣ Antusias, semangat dlm mengenakan hijab yg Syar'i.
D antara manfaat hijab adalah menjaga kehormatan dan kesucian seorang wanita.
"Yg demikian itu utk lebih suci bgi hatimu dan hati mereka. (QS Al-Ahzab ayat 53).
Hendaklah seorang wanita menutup perhiasannya dan tdk menampakkannya.
Sesungguhnya rumah juga merupakan hijab bg seorang wanita. Shg dia tdk akan keluar kecuali krn ada kebutuhan.
Dalil : QS Al-Ahzab ayat 33
3⃣ Tdk tunduk / berlemah lembut dlm berbicara dgn yg bukan mahromnya
Dalil : QS Al-Ahzab ayat 32
4⃣ Tdk bermaksiat baik ketika sendirian
5⃣ Tdk keluar rumah dgn menggunakan wewangian
6⃣ Memiliki rasa malu.
🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

➖➖➖➖➖➖➖➖➖➖
Sabtu, 17 Oktober 2015
Ba'da Ashar - selesai
Masjid Imam An-Nawawi
Yayasan Al-Hanif Perumnas Cibeber - Cilegon

PESTA DUKA DI HARI 'ASYURA

Oleh
Ustadz DR. Ali Musri Semjan Putra MA
http://almanhaj.or.id/content/2607/slash/0/pesta-duka-di-hari-asyura/

Para pembaca, kali ini kami mengajak untuk menyimpak berbagai keyakinan sesat Syiah tentang pesta duka di bumi Karbala yang mereka peringati setiap tanggal sepuluh Muharram (hari 'Asyura). Mereka melakukan berbagai bentuk penyiksaan diri dengan benda-benda tajam, seperti rantai besi, pedang, cambuk dan benda tajam lainnya. Hal itu mereka yakini sebagai bukti cinta (palsu) mereka kepada Ahlul Bait (Keluarga Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam), yang diwujudkan dalam bentuk kesedihan dan kedukaan atas terbunuhnya cucu Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam Husain Radhiyallahu 'anhuma di tempat tersebut. Silahkan menyimak dan semoga bermanfaat.

PESTA DUKA DI HARI 'ASYURA
Hari 'Asyura, orang-orang Syiah meyakininya sebagai hari sial yang membawa celaka. Sejak awal bulan Muharram (bahkan selama sebulan penuh) mereka tidak melakukan hal-hal penting di rumah, seperti tidak bepergian, tidak melakukan pernikahan, tidak berhias, tidak memakai pakaian yang bagus, tidak memakan makanan yang enak dan lain-lain. Anak yang lahir di bulan Muharram mereka yakini bernasib sial.

Secara khusus, pada hari 'Asyura, mereka melakukan ritual yang amat mengerikan dengan menyiksa diri dengan benda-benda keras dan tajam. Semangat untuk menyakiti dan melukai tubuh sendiri akan kian terlucut dengan rangsangan sya’ir-sya’ir kisah terbunuhnya Husain bin 'Ali Radhiyallahu 'anhu di padang Karbala yang diperdengarkan, karya tokoh-tokoh Syi’ah. Kisah tersebut dibumbui dengan berbagai kebohongan serta cacian terhadap para Sahabat Radhiyallahu 'anhum.

Jika para pembaca kurang yakin silakan saksikan apa yang sedang berlangsung di padang Karbala pada hari Asyura. Mereka berdatangan dari berbagai negara, dengan berpakaian serba putih. Sambil bergoyang pelan, mereka melantunkan kata 'haidar', 'haidar'. Selanjutnya, sebilah pedang mereka ayun-ayunkan ke salah satu bagian tubuh secara perlahan, sehingga tubuh mereka bersimbah darah. Perayaan duka di Karbala ini lebih dikenal di kalangan Syiah dengan sebutan ritual al-Husainiyyah.[1]

Penyiksaan diri pada hari 'Asyura tersebut tidak hanya dilakukan di bumi Karbala saja, tetapi juga dilakukan oleh kelompok Syiah di berbagai tempat lain. Menurut mereka, kegiatan penyiksaan diri pada sepuluh Muharram itu memiliki nilai ibadah yang tinggi, sebagaimana diungkapkan oleh imam-imam mereka.

UNGKAPAN PARA TOKOH SYIAH TENTANG HUKUM DAN KEUTAMAAN PESTA DUKA DI HARI 'ASYURA
Salah seorang dari tokoh Syiah telah menulis buku khusus tentang ritual pada hari 'Asyura di Karbala dengan judul al-Mâjalis al-Fâkhirah Fi Ma’âtimil 'Ithrahi ath-Thâhirah[2] atau menurut penulis, kitab tersebut berjudul Manâsik al-Husainiyyah.

Salah seorang tokoh mereka menyebutkan bahwa ritual penyiksaan diri pada hari 'Asyura di Karbala dimulai pada abad IV Hijriah pada masa dinasti al-Buwaihi. Kemudian berlanjut pada masa dinasti al-Fathimiyah. Acara tersebut sekarang ini diselenggarakan di negara-negara berpenduduk mayoritas orang-orang Syiah. Seperti Irak, Iran, India, Siria, dll.[3]

Ad-Dimastâni, ulama Syiah yang lain menegaskan : “Meratapi kematian Husain dengan berteriak-teriak hukumnya wajib ‘aini (wajib atas setiap pribadi)” [4]

Ayatullah al-'Uzhma syaikh Muhammad Husain an-Nâti berkata : “Tidak ada masalah tentang hukum bolehnya memukul pipi dan dada dengan tangan sampai merah dan menghitam. Dan lebih ditekankan lagi, memukul pundak dan punggung dengan rantai sampai kulit kemerahan dan gosong. Bahkan lebih ditekankan lagi jika hal itu menyebabkan keluarnya darah. Begitu pula mengeluarkan darah dari kening dan puncak kepala dengan pedang”[5]

Setelah kita menyimak berbagai ungkapan tokoh-tokoh Syiah Rofidhoh di atas dapat kita ketahui bahwa apa yang dinisbahkan kepada mereka itu benar. Dan bukanlah sebuah isu yang dibuat-buat..

Bila ungkapan-ungkapan tersebut kita sorot dengan cahaya al-Qur'ân dan petunjuk Sunnah serta keyakinan para ulama Salaf, niscaya akan dijumpai jurang pemisah yang sangat dalam antara keyakinan orang-orang Syiah dengan keyakinan kaum Muslimin.

SESATNYA PESTA DUKA DI HARI 'ASYURA
Kekeliruan dan kesesatan acara pesta duka tidak sulit untuk dilacak. Sebab terdapat banyak pelanggaran terhadap ajaran Islam. Berikut ini, keterangannya:

1. Ibnu Katsîr rahimahullah berkata: "Setiap muslim akan merasa sedih atas terbunuhnya Husain Radhiyallahu 'anhuma. Sesungguhnya dia adalah salah seorang dari generasi terkemuka kaum muslimin, juga salah seorang ulama di kalangan para Sahabat, dan anak dari putri kesayangan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam. Ia adalah seorang ahli ibadah, seorang pemberani dan pemurah. Tentang apa yang dilakukan Syiah (di hari 'Asyura) seperti bersedih-sedih dan berkeluh-kesah merupakan tindakan tidak pantas. Boleh jadi, itu mereka lakukan adalah karena pura-pura dan riya. Sesungguhnya ayah Husain ('Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu 'anhuma) jauh lebih afdhal (utama) darinya. Beliau juga meninggal dalam keadaan terbunuh. Akan tetapi, mereka tidak menjadikan hari kematiannya sebagai hari berkabung layaknya hari kematian Husain Radhiyallahu 'anhuma (yang diperingati). 'Ali bin Abi Thâlib Radhiyallahu 'anhu terbunuh pada hari Jum'at saat keluar rumah mau melaksanakan shalat Subuh, pada tanggal tujuh belas Ramadhan, tahun 40 H.

Demikian juga 'Utsmân Radhiyallahu 'anhu, beliau lebih mulia dari 'Ali Radhiyallahu 'anhu dalam pandangan Ahlussunnah wal Jama'ah. Beliau dibunuh saat terjadi pengepungan terhadap rumahnya, pada hari tasyriîq di bulan Dzulhijjah, tahun 36 H. Beliau disembelih dari urat nadi ke urat nadi. Tidak pernah ada orang berduka di hari kematiannya.

Demikian pula halnya 'Umar bin Khaththâb Radhiyallahu 'anhu. Beliau lebih afdhal dari 'Utsmân dan 'Ali Radhiyallahu 'anhuma. Terbunuh di mihrab saat shalat Subuh saat sedang membaca al-Qur'ân. Namun, tidak ada orang yang menjadikan hari kematiannya sebagai hari berduka.

Dan demikian juga Abu Bakar ash-Shiddîq Radhiyallahu 'anhu. Beliau lebih afdhal dari 'Umar Radhiyallahu 'anhu. Akan tetapi, tidak pernah hari kematiannya dijadikan sebagai hari berkabung.

(Terakhir), Allah Azza wa Jalla telah memanggil Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, penghulu anak Adam di dunia dan akhirat, sama seperti para nabi sebelumnya. Namun, tidak ada seorang pun menjadikan hari wafat beliau sebagai hari bela sungkawa, atau melakukan perbuatan orang-orang dari sekte Syiah pada hari kematian Husain. Tidak seorang pun menyebutkan bahwa terjadi sesuatu sebelum atau sesudah hari kematian mereka, seperti apa yang disebutkan Syiah pada hari kematian Husain. Seperti terjadinya gerhana matahari, adanya cahaya merah di langit dan lain-lain"[6]

2. Syaikh Fâdhil ar-Rûmi rahimahullah, seorang ulama Dinasti Utsmaniyah mendudukkan kesalahan Syiah dalam masalah ini : "Adapun menjadikan tanggal sepuluh Muharram sebagai hari berduka karena terbunuhnya Husain bin Ali Radhiyallahu 'anhuma yang dilakukan kaum Syiah, hal itu adalah perbuatan orang-orang sesat sewaktu di dunia. Tetapi, mereka mengira telah melakukan sesuatu yang amat baik. Padahal, Allah Azza wa Jalla dan Rasul Shallallahu 'alaihi wa sallam saja tidak pernah memerintahkan untuk menjadikan hari musibah para nabi atau hari kematian mereka sebagai hari berduka. Apalagi terhadap hari kematian orang-orang yang kedudukannya di bawah mereka…[7]

Pada kesempatan lain beliau menyatakan: "Diantara bentuk bid'ah yang dilakukan sebagian manusia pada hari 'Asyura adalah menjadikan hari tersebut sebagai hari berduka. Mereka meratap dan bersedih serta menyiksa diri pada hari tersebut. Disamping itu, mereka mencaci para Sahabat Rasululullah Shallallahu 'alaihi wa sallam yang telah meninggal, berdusta atas nama keluarga Nabi Shallallahu 'aliahi wa sallam, dan melakukan berbagai kemungkaran lainnya yang dilarang dalam al-Qur'ân dan Sunnah Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam serta kesepakatan kaum Muslimin.

Sesungguhnya, Husain Radhiyallahu 'anhuma telah dimuliakan Allah Azza wa Jalla dengan menjadikannya sebagai orang yang mati syahid pada hari tersebut. Dia dan saudaranya Hasan adalah dua pemuda penghuni Jannah. Sekalipun terbunuhnya dua orang bersaudara tersebut merupakan musibah besar, akan tetapi Allah Azza wa Jalla mensyariatkan bagi kaum muslimin ketika mengalami musibah untuk mengucapkan kalimat istirjâ' (innâ lillâh wa innâ ilaihi raji’ûn) [8].

Kalimat istirjâ' merupakah salah satu anugerah yang hanya diberikan kepada umat Islam. Sa'id bin Jubair Radhiyallahu 'anhu berkata:

لَمْ يُعطَ الْاسْتِرْجَاعُ لِأُمَّةٍ مِنَ الْأُمَمِ إِلاَّّ هَذِهِ الْأُمَّةِ، وَلَوْ أعْطِيَ لِأَحَدٍ لَأُعْطِيَ يَعْقُوْبُ النبيّ أَلاَ تَرَى أَنَّهُ قَالَ فِيْ مَقَامِ الْاستِرْجَاعِ: يَا أَسَفَى عَلَى يُوْسُفَ

"Kalimat istirjâ' tidak diberikan bagi umat-umat lain kecuali untuk umat ini (umat Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam). Jika seseorang diberi (sebelumnya, red) tentu akan diberikan kepada Nabi Ya'qub Alaihissalam. Tidakkah Anda perhatikan beliau mengucapkan sebagai ganti kalimat istirjâ' aduhai, betapa sedihnya kehilangan Yusuf'" [9].

Dalam hadits, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menyampaikan kalimat istirjâ'. Beliau bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ تُصِيبُهُ مُصِيبَةٌ فَيَقُولُ مَا أَمَرَهُ اللَّهُ إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ اللَّهُمَّ أْجُرْنِي فِي مُصِيبَتِي وَأَخْلِفْ لِي خَيْرًا مِنْهَا إِلَّا أَخْلَفَ اللَّهُ لَهُ خَيْرًا مِنْهَا

"Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah, maka ia ucapkan 'innâ lillâh wa innâ ilaihi raji’ûn', (dan berdoa) ya Allah beri aku pahala atas musibah yang menimpaku, gantilah untukku dengan sesuatu yang lebih baik darinya, melainkan Allah akan memberinya pahala untuknya atas musibah itu dan mengganti dengan sesuatu yang lebih baik dari yang ia alami" [HR. Muslim 2/632 no (918]

3. Adapun melakukan sesuatu yang dilarang Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam pada hari peringatan musibah setelah berlalu dalam masa yang cukup lama, perbuatan ini dosanya akan lebih besar lagi. Apalagi, jika disertai dengan memukul-mukul muka, merobek-robek baju, berteriak-teriak yang merupakan kebiasaan bangsa Jahiliyyah, melaknat dan mencaci orang-orang Mukmin (para Sahabat Nabi Radhiyallahu 'anhum), serta membantu orang-orang zindiq untuk merusak Islam.[10]

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah menerangkan hukum menyiksa diri atas peristiwa musibah yang menimpa seseorang dalam hadits berikut ini:

لَيْسَ مِنَّا مَنْ ضَرَبَ الْخُدُودَ وَشَقَّ الْجُيُوبَ وَدَعَا بِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةِ

"Tidak termasuk golongan kami orang yang memukul-mukul muka, merobek-robek baju dan berteriak-teriak seperti orang-orang jahiliyah" [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Dalam hadits lain, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

أَرْبَعٌ فِي أُمَّتِي مِنْ أَمْرِ الْجَاهِلِيَّةِ لَا يَتْرُكُونَهُنَّ : الْفَخْرُ بِالْأَحْسَابِ وَالطَّعْنُ فِي الْأَنْسَابِ وَالِاسْتِسْقَاءُ بِالنُّجُومِ وَالنِّيَاحَةُ عَلَى الْمَيِّتِ. وَقَالَ : النَّائِحَةُ إذَا لَمْ تَتُبْ قَبْلَ مَوْتِهَا تُقَامُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَعَلَيْهَا سِرْبَالٌ مِنْ قَطْرَانٍ وَدِرْعٌ مِنْ جَرَبٍ

"Ada empat perkara yang termasuk perkara jahiliyah terdapat di tengah umatku; berbangga dengan kesukuan, mencela keturunan (orang lain), meminta hujan dengan bintang-bintang dan meratapi mayat"

Kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menambahkan:
"Wanita yang meratapi mayat apabila tidak bertaubat sebelum meninggal, ia akan dibangkit pada hari kiamat dengan memakai mantel dari tembaga panas dan jaket dari penyakit kusta" [HR. Muslim]

Abu Musa al-Asy 'ari Radhiyallahu 'anhu berkata:

أَنَا بَرِيءٌ مِمَّا بَرِئَ مِنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَرِيءٌ مِنْ الْحَالِقَةِ , وَالصَّالِقَةِ , وَالشَّاقَّةِ

"Aku berlepas diri orang-orang yang Rasulullah berlepas diri dari mereka. Sesungguhnya Rasulullah berlepas diri dari wanita yang mencukur rambutnya, wanita yang berteriak-teriak dan wanita yang merobek-robek baju (saat ditimpa musibah)" [HR. al-Bukhâri dan Muslim]

4. Pelanggaran lain dalam bentuk mencela para Sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam.
Banyak sekali ayat maupun hadits yang menerangkan keutaman Sahabat. Dan sebaliknya juga terdapat nash-nash yang mengharamkan melaknat dan mencaci para Sahabat. Secara khusus, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah melarang dengan tegas umatnya mencela para Sahabat Radhiyallahu 'anhum:

لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ

"Jangan kalian mencela para sahabatku. Seandainya salah seorang kalian mengimfaqkan emas sebesar gunung Uhud, niscaya tidak akan sampai (nilainya) segegam (pahalanya) salah seorang mereka dan tidak pula separohnya" [HR. al-Bukhari dan Muslim]

Maka, berdasarkan hadits ini, seorang mukmin wajib memuliakan mereka dan menyebut mereka dengan kebaikan serta menahan lisan dari mencela mereka.

Peristiwa terbunuhnya 'Utsmân dan Husain Radhiyallahu 'anhuma menyebabkan terjadinya fitnah yang besar dan tersebarnya kedustaan yang banyak. Akibatnya, muncul berbagai bentuk kesesatan dan bid'ah-bid'ah, menjerumuskan sebagian generasi umat ini sejak dulu sampai sekarang. Beragam kedustaan dan kesesatan serta bid'ah-bid'ah semakin hari semakin bertambah dan berkembang. Dan telah menimbulkan berbagai akibat-akibat yang tidak mungkin kita urai dalam bahasan singkat ini.[11]

Imam al-Ghazâli rahimahullah dan ulama lainnya berkata : “Diharamkan para penceramah untuk meriwayatkan kisah terbunuhnya Husain Radhiyallahu 'anhuma, juga tentang hal-hal yang terjadi antara sesama para Sahabat dalam perselisihan dan pertikaian mereka. Karena, hal itu dapat memotivasi orang untuk membenci para Sahabat Radhiyallahu anhum dan mencela mereka. Mereka adalah teladan umat, dimana para ulama mendapatkan ilmu melalui mereka. Kemudian ilmu tersebut sampai kepada kita melalui para ulama yang mengambil ilmu dari mereka. Maka, orang yang mencela mereka adalah orang yang mencela diri dan agamanya”.

Ibnu Shalâh rahimahullah dan Imam Nawawi rahimahullah berkata: "Para Sahabat seluruhnya adalah adil (terpercaya). Saat wafatnya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam, jumlah Sahabat mencapai seratus empat belas ribu (114.000) orang. Al-Qurân dan Hadits telah menyatakan akan keadilan (ketakwaan) dan kemuliaan mereka. Dan segala sesuatu yang terjadi di antara mereka, terdapat pertimbangan-pertimbangan (yang membuat mereka tidak dihukumi telah berbuat kesalahan murni, red) yang tidak mungkin kita sebutkan satu-persatu dalam tulisan singkat ini.[12]

Imam asy-Syafi’i rahimahullah : “Itu adalah peristiwa pertumpahan darah yang Allah menghindarkan tangan-tangan kita darinya. Maka hendaklah kita mensucikan lidah kita dari membicarakannya”.

Semoga Allah Azza wa Jalla melindungi kita dari berbagai bentuk kesesatan dan kebatilan, baik yang nyata maupun yang tersembunyi.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 10/Tahun XII/1430H/2009M. Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Penisbatan kepada nama Husain Radhiyallahu 'anhuma
[2]. Lihat Man Qatalal Husain, hal: 60
[3]. Lihat Man Qatalal Husain, hal: 56
[4]. Lihat Man Qatalal Husain, hal: 65
[5]. Lihat Man Qatalal Husain, hal: 66
[6]. al-Bidâyah wan Nihâyah (8/208)
[7]. Majâlisul Abrâr majlis no 37.
[8]. Ibid.
[9]. Diriwayatkan Imam ath-Thabari rahimahullah dalam Tafsirnya (13/39)
[10]. Lihat Majâlisul Abrâr majlis no 37.
[11]. Lihat Majâlisul Abrâr majlis no 37.
[12]. Lihat "Ash shawa'iq Al Muhriqoh" karangan Al Haitamy: 2/640.
©almanhaj//مجانا/Free

KIAT-KIAT MENDAPATKAN ILMU



Dari Admin Da’wah Al-Hanif@WA: Kami ambil intisarinya dari Al-Hikmah fii Ad-Da'wah ilaa Allah karya Syaikh Dr. Said bin Wahf Al-Qahthani.

1.     Seorang hamba hendaknya berdoa meminta ilmu yang bermanfaat kepada Rabbnya. Allah telah perintahkan kepada NabiNya shallallahu walaihi wa sallam untuk berdoa meminta tambahan ilmu.  Allah Ta’ala berfirman:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“…dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Thaha: 114).
Dan salah satu do’a yang dilantunkan Rasulullah shallallahu alihi wa sallam adalah:
 اَللَّهمَّ انفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا
“Ya Allah berilah manfaat ilmu yang Engkau ajarkan kepadaku, dan berilah aku sesuatu yang bermanfaat bagiku dan tambahkanlah aku ilmu” ( H.R.Tirmidzi dan Ibn Majah)
Selayaknya bagi setiap muslim tidak melupakan ikhtiar/upaya bathin berupa doa kepada Allah agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Rasulullah diperintahkan oleh Allah untuk berdoa meminta ditambahkan ilmu padahal wahyu diturunkan kepada beliau! Oleh karena itu hendaknya kita memperbanyak doa memohon tambahan ilmu disamping upaya kita mendatangi majelis ilmu. Dan hendaknya gunakan waktu waktu yang mustajab ketika berdoa meminta tambahan ilmu.

2.     Bersungguh sungguh dan berkeinginan keras dalam mencari ilmu, serta dengan mengharap ridha Allah. Dalam hal ini Imam Syafi’i bersyair:
أَخِي لَنْ تَنَالَ اَلْعِلْم إِلاَّ بِسِتَةٍ سَأُنْبِئْكَ عَنْ تَفْصِيلِهَا بِبَيَانٍ
ذَكَاءٌ، وَحِرْصٌ، وَاجْتِهَادٌ، وَبُلْغَةٌ، وصحبة أُسْتَاذٍ ، وَطُوْلُ زَمَانٍ
“Saudaraku, engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara. Akan aku kabarkan rinciannya dengan jelas: kecerdasan, berkeinginan keras, bersungguh-sungguh, memiliki bekal, bergaul dengan ustadz (Ada juga yang mengartikan harus dengan bimbingan ustadz. Wallahu a’lam –red), dan perlu waktu yang lama”

3.     Menjauhi segala maksiat dengan bertaqwa kepada Allah. Hal ini faktor terpenting untuk memperoleh ilmu  sebagaimana ilmu pun sebagai hal yang terpenting untuk memperoleh ketaqwaan. Subhanallah! Betapa menakjubkan penjelasan ulama yang menjelaskan keterkaitan  satu masalah dengan masalah lain dalam hal ini ilmu dan taqwa! Allah berfirman dalam surat al Baqarah 282:
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dan bertaqwalah kepada Allah, Allah mengajarmu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Allah Ta’ala berfirman dalam surat al Anfal:29
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan”
Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa orang bertaqwa kepada Allah akan diberi ilmu sehingga ia akan mampu membedakan yang hak dan bathil. Alkisah, suatu hari Al Imam asy Syafi’i rahimahullah bermaksud menyusun kitab, namun tiba-tiba beliau lupa materi yang akan dituliskannya. Maka al Imam rahimahullah mengadukan hal ini kepada seorang gurunya yang bernama Al Imam Waki’ dan sang gurunya mengatakan, “Anda sudah bermaksiat, oleh karena itu tinggalkanlah maksiat.” Imam Syafi’i kemudian mengabadikan nasehat gurunya tersebut dalam bentuk sya’ir:
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيع سُوءََ حِفْظِي فأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وأخبرني بِأنَّ عِلْمَ اللهِ نُورٌ وَنُورُ اللهِ لاَ يُهدَى لِعَاصِي                       
Aku mengadu kepada Waki’ mengenai buruknya hafalanku
Maka beliau memberi nasehat agar meninggalkan maksiat
Dan memberitahu bahwa Ilmu Allah adalah nuur (cahaya)
Dan cahaya Allah tidak dianugerahkan kepada pelaku maksiat.

4.     Tidak sombong dan tidak malu dalam menuntut ilmu. Aisyah radhiyallahu anha pernah mengatakan, “Wanita terbaik adalah wanita kaum anshar, karena perasaan malunya tidak menghalangi mereka untuk memperdalam ilmu agama.” Mujahid berkata: “Tidaklah dapat mencari ilmu bagi orang yang malu dan sombong”

5.     Ikhlas dalam mencari ilmu. Dalam mencari ilmu hendaknya mencari wajah Allah dan bukan dengan niat berbangga-bangga di hadapan manusia dengan ilmunya.

6.     Mengamalkan ilmu. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan. Imam Sufyan bin Uyainah berkomentar tentang amal, “Manusia paling bodoh adalah yang meninggalkan ilmu yang diketahuinya, dan manusia yang paling berilmu adalah yang mengamalkan ilmunya, dan manusia yang paling utama adalah yang paling takut kepada Allah.”

Billahit Taufiq Wal Hidayah

© Da'wah Al-Hanif@WA
+6281311497942