Dari Admin Da’wah Al-Hanif@WA: Kami copy dari status fanpage facebook Yayasan Al-Hanif Cilegon di tahun 2013
Syaikh Masyhur Hasan Salman hafizohullah berkata :
"Guru kami (Syaikh Al-Albani) rahimahullah menugaskan aku untuk memuroja'ah (memeriksa kembali) beberapa juz dari kitab As-Silsilah Ad-Dho'ifah sebelum dicetak. Lalu iapun menyerahkan jilid ke lima dari kita As-Silsilah Ad-Dho'ifah. Lalu akupun mengambil kitab tersebut yang ditulis dengan tulisan tangan beliau sebelum dicetak. Tatkala aku mengeluarkannya dari kantong dan aku melihat kitab tersebut maka akupun menangis.
Maka syaikh rahimahullah bertanya kepada ; "Kenapa engkau?"
Aku diam tidak menjawab, dan syaikh melihat air mataku mengalir.
Ternyata syaikh rahimahullah menulis kitab "Silsilah Al-Ahaadiits Ad-Dho'ifah" jilid ke lima pada kertas-kertas hadiyah, dan kantong-kantong kertas gula dan beras, yaitu bungkusan-bungkusan yang berwarna merah yang digunakan orang-orang untuk menimbang gula dan beras.
Syaikh berkata kepadaku : "Saya punya benang-benang yang saya celupkan ke tinta lalu aku letakan benang-benang tersebut di atas kertas-kertas, sehingga kertas-kertas tesebut menjadi bergaris-garis. Aku tidak memiliki uang untuk membeli kertas"
Semoga Allah merahmati engkau yang telah menghabiskan umur untuk membela sunnah Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
(sumber :http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=27279)
Saya (Firanda) jadi teringat dengan cerita Syaikh Abdurrozzaq hafizohulloh tatkala beliau diuji tentang tesis beliau, dan dosen penguji tatkala itu adalah Syaikh Sholeh Al-Fauzaan hafizohulloh. Syaikh Sholeh Al-Fauzan mengkritik Syaikh Abdurrozzaq yang telah mengkhususkan satu halaman hanya untuk menulis kalimat (بسم الله الرحمن الرحيم). Syaikh Sholeh Al-Fauzan menganggap hal itu adalah bentuk mubadzdzir.
Syaikh Abdurrozzaq bercerita bahwa dahulu kertas mahal dan sulit untuk didapat, sehingga beliau melihat tulisan ayah beliau syaikh Abdul Muhsin Al-Abbad hafizohulloh sampai diujung-ujung kertas. Tidak ada bagian kertas yang tersisa kosong, semuanya terisi tulisan. (Copy dari status Ustadz Firanda hafizhahullaah)
SYAIKH AL ALBANI MENYALIN KITAB
Syaikh Al Albani rahimahullah pernah bercerita: “Bahwasanya ni’mat Allah yang dianugerahkan kepadaku sangat banyak, aku tidak mampu menghitungnya. Di antara ni’mat-ni’mat itu ada dua hal yang sangat penting: pertama, hijrah ayahku ke negeri Syam (beliau adalah orang Albania, negara non Arab dan bahasa yang digunakannyapun bukan bahasa Arab-pen.) dan yang kedua aku diajari sebuah profesi ayahku yang dimilikinya yaitu keterampilan mereparasi jam. Ni’mat yang pertama telah memudahkanku untuk belajar bahasa Arab, seandainya kami tetap di Albania aku kira tidak akan mempelajarinya walaupun hanya satu huruf. Padahal tiada jalan menuju Kitabulloh (al-Qur-an) dan Sunnah Rosulullah kecuali dengan bahasa Arab. Ni’mat yang kedua (yakni keahlian mereparasi jam) telah memberi aku waktu senggang yang aku isi dengan menuntut ilmu, serta kesempatan beberapa jam setiap hari untuk mengunjungi perpustakaan “Zhahiriyyah” (perpustakaan di kota Damsyik atau Damascus, Syiria). Seandainya aku terus menekuni upaya untuk menjadi seorang pandai kayu, tentunya akan menyita seluruh waktuku. Akibatnya tertutuplah jalan-jalan di hadapanku untuk mencapai ilmu, karena setiap penuntut ilmu harus banyak menyiapkan waktu.”
Selanjutnya beliau berkata: “Sesuatu yang telah diatur oleh Allah dan sebagai kasih sayangnya kepadaku, setelah aku beralih profesi dan mendampingi ayahku, aku miliki banyak waktu luang. Aku mohon izin kepada ayahku untuk menghadiri kajian-kajian di masjid Bani Umayyah. Suatu ketika di waktu senggang, Allah mentakdirkan bagiku bertemu dengan seorang Mesir. Pekerjaannya membeli kitab-kitab lama lalu dipajangnya pada sebuah toko kecil miliknya yang terletak di depan pintu barat masjid. Aku sering meihat buku-buku tersebut dan menemukan kisah-kisah yang kusukai, kupinjam darinya dengan memberi upah lalu mengembalikannya.
Suatu hari aku jumpai beberapa edisi majalah ‘Al Manar’ di antara kitab-kitab pajangannya. Ketika kubaca, aku dapati sebuah tulisan Sayyid Rasyid Ridha. Ia membahas sisi positif kitab ‘Ihya Ulumuddin karya
Al Ghozali, dan mengkritiknya dari beberapa segi seperti masalah Tasawwuf dan hadits-hadits dho’if. Beliau juga menyebutkan bahwa Abu Fadhl Zainuddin al- Iraqi mempunyai sebuah kitab mengenai ‘Ihya Ulumuddin, meneliti hadits-haditsnya serta memisahkan antara yang shohih dan yang dho’if. Nama kitabnya Al Mughni ‘an hamlil Asfar fil Asfar fi Takhrij ma fil Ihya minal Akhbar.
Aku sangat berminat memiliki buku ini oleh sebab itu aku pergi ke pasar untuk mencarinya, ibarat seorang yang jatuh cinta dan bingung karena sedih. Aku temukan buku tersebut pada seorang penjual kitab namun pada saat itu aku seorang yang faqir seperti ayahku, tidak mampu membelinya. Maka aku bersepakat dengan pemiliknya untuk menyewanya, kubawa buku itu dan seolah-olah aku ingin terbang karena sangat gembira. Kembalilah aku ke toko dan kumanfaatkan untuk membacanya dengan konsentrasi di saat ayahku sedang pergi.
Kemudian timbul keinginanku untuk menyalin isi buku tersebut, maka aku beli beberapa lembar kertas dan mulailah untuk menyalinnya. Hingga sekarang salinan kitab tersebut masih tersimpan sebagai sebuah manuskrip.” (Subhanallah! Lihatlah runtutan peristiwa yang terjadi pada Syaikh Al Albani: tidak punya uang untuk membeli kitab kemudian menyewa dan akhirnya menyalin kitab tersebut! MENYALIN KITAB! Sungguh luar biasa!) (Biografi Syaikh Al Albani, Ustadz Mubarok Bamuallim)
DETIK-DETI WAFATNYA SANG IMAM rahimahullaah
Sejak tiga tahun sebelum wafatnya, Imam Al Albani rahimahullah telah mengidap beberapa penyakit, salah satunya adalah liver ditambah usianya yang telah lanjut. Penyakit yang dideritanya cukup serius namun demikian tidak menghalanginya membaca dan membahas hingga saat-saat terakhir kehidupannya.
Syaikh Ali bin Hasan al Halabi hafizhahullah menuturkan: “Kurang lebih sebulan sebelum wafatnya, Syaikh Al Albani menelepon saya meminta sebuah tafsir al Qur-an yang telah lenyap dari ingatannya. Demikian pula kepada anak-anaknya beliau meminta kitab ‘Shahih Sunan Abu Dawud.’”
Pada kesempatan lain Syaikh Al Ali hafizhahullah berkata: “ Sebulan sebelum wafatnya, Syaikh Al Albani rahimahullah membahas sebuah hadits selama tiga hari, beliau menyuruh ‘Ubadah (salah seorang cucunya) untuk menulis ucapan atau keterangan beliau dalam delapan belas halaman, dan aku ikut menyaksikan kejadian itu.”
Syaikh Muhammad bin Ibrahim Syuqrah mengungkapkan: “ Syaikh Al Albani rahimahullah tidak pernah berhenti membahas, jika ingin menulis sesuatu ia berkata (kepada anak atau cucu beliau): “ Tulislah ya ‘Abdul Lathif ! Tulislah ya Ubadah! Tulislah ya Lu’ai!”
Syaikh Abul Hasan menuturkan: “Mereka yang menemani beliau ketika sakit mendengarnya berkata ketika sedang tidur: ‘Berikan kitab al Jarh wat Ta’dil jilid sekian halaman sekian..dan kitab lain yang disebutnya, demikian cintanya terhadap ilmu di waktu terbangun hingga dibawa tidur. Semoga Allah merahmatinya.”
Sedangkan Syaikh ‘Ali Khasysyan menceritakan: “Beberapa hari sebelum wafat, jika sadar dari sakit yang dideritanya beliau berkata: ‘Berikan kitab al Jarh jilid yang kedua. Demikianlah keadaanya. Benarlah sebuah pepatah mengatakan:
كُلُّ إِنَاءٍ بِمَا فِيْهِ يَنْضَح
“Setiap bejana memercikkan isi yang ditampungnya”
Dari Buku Karya Ustadz Mubarok Bamuallim: Biografi Syaikh Al Albani
© Da'wah Al-Hanif@WA
+6281311497942
No comments:
Post a Comment