Wednesday, October 28, 2015

KIAT-KIAT MENDAPATKAN ILMU



Dari Admin Da’wah Al-Hanif@WA: Kami ambil intisarinya dari Al-Hikmah fii Ad-Da'wah ilaa Allah karya Syaikh Dr. Said bin Wahf Al-Qahthani.

1.     Seorang hamba hendaknya berdoa meminta ilmu yang bermanfaat kepada Rabbnya. Allah telah perintahkan kepada NabiNya shallallahu walaihi wa sallam untuk berdoa meminta tambahan ilmu.  Allah Ta’ala berfirman:
وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا
“…dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” (Thaha: 114).
Dan salah satu do’a yang dilantunkan Rasulullah shallallahu alihi wa sallam adalah:
 اَللَّهمَّ انفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا
“Ya Allah berilah manfaat ilmu yang Engkau ajarkan kepadaku, dan berilah aku sesuatu yang bermanfaat bagiku dan tambahkanlah aku ilmu” ( H.R.Tirmidzi dan Ibn Majah)
Selayaknya bagi setiap muslim tidak melupakan ikhtiar/upaya bathin berupa doa kepada Allah agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Rasulullah diperintahkan oleh Allah untuk berdoa meminta ditambahkan ilmu padahal wahyu diturunkan kepada beliau! Oleh karena itu hendaknya kita memperbanyak doa memohon tambahan ilmu disamping upaya kita mendatangi majelis ilmu. Dan hendaknya gunakan waktu waktu yang mustajab ketika berdoa meminta tambahan ilmu.

2.     Bersungguh sungguh dan berkeinginan keras dalam mencari ilmu, serta dengan mengharap ridha Allah. Dalam hal ini Imam Syafi’i bersyair:
أَخِي لَنْ تَنَالَ اَلْعِلْم إِلاَّ بِسِتَةٍ سَأُنْبِئْكَ عَنْ تَفْصِيلِهَا بِبَيَانٍ
ذَكَاءٌ، وَحِرْصٌ، وَاجْتِهَادٌ، وَبُلْغَةٌ، وصحبة أُسْتَاذٍ ، وَطُوْلُ زَمَانٍ
“Saudaraku, engkau tidak akan memperoleh ilmu kecuali dengan enam perkara. Akan aku kabarkan rinciannya dengan jelas: kecerdasan, berkeinginan keras, bersungguh-sungguh, memiliki bekal, bergaul dengan ustadz (Ada juga yang mengartikan harus dengan bimbingan ustadz. Wallahu a’lam –red), dan perlu waktu yang lama”

3.     Menjauhi segala maksiat dengan bertaqwa kepada Allah. Hal ini faktor terpenting untuk memperoleh ilmu  sebagaimana ilmu pun sebagai hal yang terpenting untuk memperoleh ketaqwaan. Subhanallah! Betapa menakjubkan penjelasan ulama yang menjelaskan keterkaitan  satu masalah dengan masalah lain dalam hal ini ilmu dan taqwa! Allah berfirman dalam surat al Baqarah 282:
وَاتَّقُوا اللَّهَ وَيُعَلِّمُكُمُ اللَّهُ وَاللَّهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
“Dan bertaqwalah kepada Allah, Allah mengajarmu, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.”

Allah Ta’ala berfirman dalam surat al Anfal:29
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan”
Ayat-ayat tersebut menegaskan bahwa orang bertaqwa kepada Allah akan diberi ilmu sehingga ia akan mampu membedakan yang hak dan bathil. Alkisah, suatu hari Al Imam asy Syafi’i rahimahullah bermaksud menyusun kitab, namun tiba-tiba beliau lupa materi yang akan dituliskannya. Maka al Imam rahimahullah mengadukan hal ini kepada seorang gurunya yang bernama Al Imam Waki’ dan sang gurunya mengatakan, “Anda sudah bermaksiat, oleh karena itu tinggalkanlah maksiat.” Imam Syafi’i kemudian mengabadikan nasehat gurunya tersebut dalam bentuk sya’ir:
شَكَوْتُ إِلَى وَكِيع سُوءََ حِفْظِي فأَرْشَدَنِي إِلَى تَرْكِ الْمَعَاصِي
وأخبرني بِأنَّ عِلْمَ اللهِ نُورٌ وَنُورُ اللهِ لاَ يُهدَى لِعَاصِي                       
Aku mengadu kepada Waki’ mengenai buruknya hafalanku
Maka beliau memberi nasehat agar meninggalkan maksiat
Dan memberitahu bahwa Ilmu Allah adalah nuur (cahaya)
Dan cahaya Allah tidak dianugerahkan kepada pelaku maksiat.

4.     Tidak sombong dan tidak malu dalam menuntut ilmu. Aisyah radhiyallahu anha pernah mengatakan, “Wanita terbaik adalah wanita kaum anshar, karena perasaan malunya tidak menghalangi mereka untuk memperdalam ilmu agama.” Mujahid berkata: “Tidaklah dapat mencari ilmu bagi orang yang malu dan sombong”

5.     Ikhlas dalam mencari ilmu. Dalam mencari ilmu hendaknya mencari wajah Allah dan bukan dengan niat berbangga-bangga di hadapan manusia dengan ilmunya.

6.     Mengamalkan ilmu. Ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang diamalkan. Imam Sufyan bin Uyainah berkomentar tentang amal, “Manusia paling bodoh adalah yang meninggalkan ilmu yang diketahuinya, dan manusia yang paling berilmu adalah yang mengamalkan ilmunya, dan manusia yang paling utama adalah yang paling takut kepada Allah.”

Billahit Taufiq Wal Hidayah

© Da'wah Al-Hanif@WA
+6281311497942

No comments:

Post a Comment