Majelis Ketiga KAKITA (Kajian Kitab Tauhid)
Download Audio
oleh : Ustadz Ubaidillah Masyhadi
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
الحمد لله نحمده و نستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيات اعمالنا، من يهد الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له.
اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شرىك له، واشهد ان محمدا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم على محمد وعلى اله واصحابه ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين، اما بعد,
Aqidah
adalah merupakan perkara yang ghoib terutama berkaitan dengan diri
Allah ta'ala, apakah sifat Dzatiyah-Nya atau sifat Fi'liyah-Nya.
Demikian pula yang menjadi hak-hak Allah ta'ala. Karena itu kita hanya
merujuk pada 2 hal, yaitu al-Qur'an dan as-Sunnah.
Syaikh Sholeh al-Fauzan hafizhohullahu ta'ala- berkata :
"Aqidah
adalah tauqifiyyah artinya tidak bisa ditetapkan kecuali dengan dalil
syar'i. Maksudnya adalah al-Qur'an dan hadist Rosulullah shollallahu
'alaihi wasallam. Tidak ada medan ijtihad dan berpendapat di dalamnya
sebatas pada apa yang ada di dalam al-Qur'an dan as-Sunnah."
Karena
itulah para shohabat, mereka menjadi kokoh persatuannya, mereka berada
di atas manhaj yang benar, terutama berkaitan dengan masalah aqidah ini.
Mereka hanya merujuk kepada al-Qur'an dan as-Sunnah sehingga persatuan
mereka terlihat kokoh, bersatu di atas kebenaran. Dan itulah yang
diperintah oleh Allah subhaanahu wata'ala, dimana kaum muslimin harus
berada di atas jalan yang sama, di atas jalan kebenaran, terutama
masalah yang pokok ini, yaitu masalah aqidah.
Sebagaimana Allah ta'ala berfirman dalam al-Qur'an surat Ali Imron ayat 103 yang artinya :
"Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali agama Allah dan janganlah kamu bercerai berai."
Dan di dalam surat Thoha ayat 123, Allah berfirman yang artinya :
"Maka
jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang
mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka."
Bila
kita perhatikan, ayat ini memberikan jaminan yang tegas bahwa siapa
yang mengikuti petunjuk al-Qur'an, termasuk di dalam menetapkan satu
keyakinan pada diri kita dimana kita hanya merujuk pada al-Qur'an dan
hadist-hadist Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam saja. Apabila ada
satu keyakinan memang terdapat dalam al-Qur'an seperti Allah ta'ala
memiliki sifat mendengar, maka kita wajib menetapkan bahwa Allah
memiliki sifat mendengar. Ini hanya sekedar contoh.
Demikian pula ketika Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda,
ان الله طيب لا يقبل الا طيبا
"Sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali dari yang baik".
Ini
adalah sebuah keyakinan yang diterangkan oleh Rosulullah shollallahu
'alaihi wasallam bahwa Allah itu Maha Baik dan tidak akan menerima
kecuali yang baik. Seperti seseorang jika bersedekah, maka tidak akan
berbuah pahala apabila sedekahnya itu bersumber dari barang yang haram.
Seperti ia bersedekah dari hasil mencuri, atau zatnya yang haram
misalnya ia bersedekah daging babi, maka ini tidak akan diterima Allah
ta'ala berdasarkan apa yang dikhabarkan oleh Rosulullah shollallahu
'alaihi wasallam kepada kita.
Apabila satu keyakinan tidak
berada di dalam Al-Qur'an dan tidak pula kita dapatkan di dalam hadist
yang shohih dari Nabi shollallahu 'alaihi wasallam, maka tidak boleh
kita mengambilnya. Bila kita sudah terlanjur meyakini keyakinan itu,
maka wajib kita menanggalkan keyakinan tersebut.
Mengapa?
Sudah
jelas bahwa hal itu tidak kita dapatkan dalam al-Qur'an dan tidak pula
di dalam hadist-hadist shohih dari Rosulullah shollallahu 'alaihi
wasallam.
Kita lihat bagaimana para shohabat di zaman
dahulu, mereka ketika menerima Islam sebagai agama mereka, maka mulai
saat itu mereka hanya memegang keyakinan dari al-Qur'an dan hadist saja.
Begitu banyak keyakinan-keyakinan yang tadinya mereka pegang walaupun
sudah mengakar dalam tubuhnya sampai mendarah daging, menghunjam kuat di
dalam hatinya, tapi karena mereka sudah menyatakan Islam sebagai agama,
maka keyakinan-keyakinan yang ada pada diri mereka yang ternyata tidak
ada di dalam al-Qur'an maupun hadist Rosulullah shollallahu 'alaihi
wasallam saat itu juga mereka buang sejauh-jauhnya. Itulah sikap seorang
mukmin yang sejati. Itulah yang harus dilakukan oleh orang yang beriman
kepada Allah dan hari akhir.
Oleh karena itu, supaya
kita menjadi seorang muslim yang baik, supaya keimanan kita diterima
oleh Allah ta'ala, hendaknya kita mengikuti jejak para shohabat karena
merekalah hamba-hamba Allah yang dipandang benar di dalam beragama,
sebagaimana Allah ta'ala berfirman :
فان امنوا بمثل ما امنتم به فقد اهتدوا
"Maka apabila mereka itu beriman seperti imannya kalian, maka mereka mendapatkan petunjuk dari Allah ta'ala."
Yang
dimaksud 'kalian' dalam ayat ini adalah para shohabat rodhiyallahu
'anhum ajma'in. Jadi kita harus mengikuti cara para shohabat di dalam
beraqidah, di dalam memegang keyakinan. Intinya adalah bahwa setiap
keyakinan yang ada pada diri kita, maka harus merujuk kepada al-Qur'an
dan merujuk kepada hadist-hadist yang shohih dari Rosulullah shollallahu
'alaihi wasallam. Setiap keyakinan yang ternyata bertentangan dengan
apa yang ada di dalam al-Qur'an dan bertentangan dengan apa yang ada di
dalam hadist Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam, maka wajib kita
jauhi sejauh-jauhnya.