Sunday, April 26, 2015

TIGA MACAM TAUHIDULLAH SUBHANAHU WA TA'ALA


( Bagian 2 )

oleh : Ustadz Ubaidillah Masyhadi

السلام عليكم  ورحمة الله وبركاته.
 الحمد لله نحمده و نستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور  انفسنا ومن سيات اعمالنا، من يهد الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له.
 اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شرىك له، واشهد ان محمدا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم على محمد وعلى اله واصحابه ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين، اما بعد.....
Pada majlis ini kita masih melanjutkan pembahasan tentang macam- macam tauhid.
Syaikh DR. Sholeh al- Fauzan - hafizhohullah ta'ala- berkata, "Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan manusia dengan fithroh, yaitu mengakui tauhid (bagi Allah) dan mengakui (Allah sebagai) Robb Sang Pencipta ".

Kemudian beliau menukil beberapa ayat yang menguatkan pendapat beliau.

▶ Pertama QS. ar- Ruum : 30
فاقم وجهك للدين حنيفا فطرت الله التي فطر الناس عليها لا تبديل لخلق الله.
" Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah. Tetaplah atas fithroh Allah yang (Dia) telah menciptakan manusia menurut fithroh itu. Tidak ada perubahan pada fithroh Allah. Itulah agama yang lurus tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui ".

▶ Kedua QS. al- A'rof : 172
" Dan ingatlah ketika Robbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka seraya berfirman, 'Bukankah Aku ini Robbmu ?' Mereka menjawab, 'Benar, Engkau adalah Robb kami, kami menjadi saksi '. Kami lakukan yang demikian itu agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, 'Sesungguhnya kami Bani Adam adalah orang- orang yang lengah terhadap hal ini (ke-Esaan Robb)'."

Dari sini, kita bisa mengambil 2 pelajaran,
✏ Pertama bahwa pengakuan terhadap Rububiyah Allah Subhanahu wa Ta'ala adalah sesuatu yang fithri.

Mengapa kemudian manusia bisa menyimpang dari yang fithri ini ?

Karena sebagaimana Rosulullah Shollallahu 'alaihi wa Sallam bersabda di dalam riwayat Bukhori dan Muslim :
" Setiap bayi dilahirkan atas dasar fithroh, maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nashroni, atau Majusi ".

✏ Kedua bahwa perubahan dari yang asal berupa penyelewengan dari aqidah yang benar adalah sesuatu yang datang kemudian.
Di sini, dikatakan oleh Rosulullah Shollallahu 'alaihi wa Sallam diantara faktor penyebab mengapa seorang anak manusia menyimpang dari fithrohnya yaitu karena kedua orang tuanyalah yang menggiringnya menjadi Yahudi, Nashroni, atau Majusi. Dan ini bisa diqiyaskan pula bahwa seseorang itu bisa dipalingkan kepada agama- agama buatan manusia yang lainnya.

Syaikh Sholeh al- Fauzan - hafizhohullah- berkata, " Seandainya manusia diasingkan dan dibiarkan fithrohnya, maka pasti ia akan mengarah pada tauhid yang dibawa oleh para Rosul yang disebutkan oleh kitab-kitab suci dan ditunjukkan oleh alam. Akan tetapi bimbingan yang menyimpang dan lingkungan yang atheis itu faktor penyebab yang mengubah pandangan si bayi. Dari sanalah seorang anak manusia mengikuti bapaknya dalam kesesatan dan
penyimpangan ".

Beliau juga menukil firman Allah Subhanahu wa Ta'ala dalam hadist qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Imam Ahmad :

خلقت عبادي حنفاs فاجتالتهم الشياطين.
" Aku ciptakan hamba- hamba-Ku dalam keadaan lurus, bersih, maka para syaithonlah yang memalingkan mereka ".

Artinya, yang memalingkan dari kebenaran yang Allah Subhanahu wa Ta'ala menciptakan di atasnya.

Ikhwani wa Akhawati fiddiin 'azza kumullah...
Kita melihat sekarang ini, bahkan kita menyimpulkan bahwa orang-orang kafir kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala jauh lebih besar jumlahnya dari pada orang yang tetap tegak di atas fithroh yang Allah ciptakan di atasnya. Ini menunjukkan bahwa demikian besar tantangan dan rintangan yang harus dihadapi oleh manusia. Apabila seseorang itu kuat dalam aqidahnya, maka dengan izin Allah dia akan tetap di atas fithrohnya.

Akan tetapi sebaliknya, ketika seseorang itu goyah, mudah terpengaruh oleh lingkungan yang rusak, maka itulah yang akan menjadikannya menyeleweng dari kebenaran menuju kesesatan atau ia mudah diombang-ambingkan oleh syaithon. Karena kita ketahui bahwa syaithon selalu berusaha tanpa henti-hentinya di setiap waktu menyelewengkan manusia dari aqidah yang benar.  Bagaimana supaya fithroh yang Allah ciptakan bagi manusia itu menjadi rusak sehingga pada hari kiamat nanti, manusia- manusia tersebut yang berhasil dibujuk dan dirayu oleh syaithon memasuki api neraka. Na'udzubillahi min dzaalik.

Oleh karena itu, kembali pada tujuan kita yang sudah kita singgung pertama kali, mengapa kita mempelajari aqidah, mempelajari kitab tauhid, tidak lain adalah untuk membentengi diri kita dari segala bentuk penyelewengan- penyelewengan baik yang dilakukan oleh manusia maupun yang dibisikkan oleh syaithon dari bangsa jin.

Kita berlindung kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala dan kita memohon kepada- Nya semoga kita tetap dalam keadaan istiqomah di atas aqidah yang  benar, mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta'ala sampai akhir hayat kita.
اقول قولي هذا واستغفر الله لي ولكم، والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.

[Transkrip telah dimuroja'ah oleh Ustadz Ubaidillah Masyhadi]

No comments:

Post a Comment