Monday, April 13, 2015

FAKTOR - FAKTOR YANG MENYEBABKAN PENYIMPANGAN 'AQIDAH

oleh : Ustadz Ubaidillah Masyhadi

 السلام عليكم  ورحمة الله وبركاته.
 الحمد لله نحمده و نستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور  انفسنا ومن سيات اعمالنا، من يهد الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له.
 اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شرىك له، واشهد ان محمدا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم على محمد وعلى اله واصحابه ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين، اما بعد.....

Pada majelis keempat ini, kita akan menyinggung permasalahan yang dibahas oleh muallif atau penulis buku Kitabut Tauhid yang ditulis oleh asy-Syaikh Sholeh al-Fauzan - hafizhohullahu ta'ala - yaitu tentang faktor-faktor yang menyebabkan penyimpangan aqidah, dimana dalam pembahasan ini, beliau mengingatkan pertama kali tentang bahayanya menyimpang dari aqidah yang benar dan bagaimana peran aqidah yang benar terhadap amalan yang bermanfaat bagi seseorang.

Beliau mengatakan, "Penyimpangan dari aqidah yang benar adalah kehancuran dan kesesatan. Karena aqidah yang benar merupakan motivator atau pemberi semangat yang paling kuat bagi amal yang bermanfaat ".
Beliau juga mengatakan bahwa seseorang apabila tidak memiliki aqidah yang kuat, maka dialah yang akan dijadikan mangsa oleh orang-orang yang suka menghembuskan syubhat-syubhat / keraguan sehingga lama-kelamaan orang yang terjebak dalam keraguan itu menjadi tertutupi dari kebenaran terutama masalah aqidah ini.

Syaikh Sholeh al-Fauzan -hafizhohullah - menyebutkan ada 7 faktor utama mengapa seseorang bisa menyimpang dari aqidah yang benar, yakni

✏ Pertama, yaitu kebodohan terhadap aqidah yang benar. Kebodohan ini disebabkan karena enggan mempelajari aqidah dan mengajarkan aqidah tersebut.
Atau kurangnya perhatian terhadap permasalahan aqidah ini.

Oleh karena itu, apabila satu bangsa tidak memperhatikan masalah ini, maka lama-kelamaan akan tumbuh generasi yang tidak memahami aqidah yang benar dan tidak pula memahami perkara-perkara yang bisa merusak aqidah. Atau sebagai lawan dari aqidah yang benar ini berupa aqidah yang bathil.

Sebagaimana seorang shohabat yang mulia, 'Umar bin Khoththob rodhiyallahu 'anhu berkata, "Sesungguhnya ikatan sampul Islam akan pudar satu demi satu manakala dalam Islam terdapat orang yang tumbuh tanpa mengenal kebodohan atau kejahiliyahan".

✏ Kedua , sikap fanatik terhadap sesuatu yang diwarisi oleh bapak-bapak atau nenek moyang mereka sekalipun apa yang diwariskan itu sesuatu yang bathil atau bertentangan dengan aqidah yang benar.

Sebagaimana hal ini juga menimpa masyarakat jahiliyah pada saat itu sehingga ketika datang Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam untuk mengajak mereka pada aqidah yang benar, seperti meninggalkan sesembahan yang selama ini mereka sembah menuju sesembahan yang haq / benar yaitu Allah Subhanahu wa ta'ala, maka mereka yang masih diliputi oleh ta'ashub/ fanatik yang kuat terhadap perkataan nenek moyang mereka berkata sebagaimana yang tertuang dalam surat al-Baqoroh ayat 170,

" Dan apabila dikatakan kepada mereka, 'Ikutilah kepada apa yang telah diturunkan Allah ', maka mereka menjawab, 'Tidak, tetapi kami tetap mengikuti apa yang telah kami dapati dari perbuatan nenek moyang kami melakukannya'.
Apakah mereka akan mengikuti juga walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui sesuatu apapun dan tidak pula mereka mendapatkan petunjuk?".

Di dalam ayat ini, Allah ta'ala menyebutkan sikap mereka yang keliru. Hal ini diabadikan di dalam al-Qur'an supaya  menjadi 'ibroh/pelajaran bagi kita bahwa sikap ta'ashub mampu menghalangi seseorang kepada hidayah dan taufiq dari Allah ta'ala. Artinya bahwa kita harus menggunakan akal kita yang cerdas dalam arti ikut merenungi ayat-ayat al-Qur'an dan bagaimana para shohabat memahami ayat-ayat al-Qur'an demikian pula hadist yang shohih dari Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam.

Inilah yang akan menyelamatkan kita dari kebinasaan, yaitu apabila terbebas dari sikap ta'ashub yang berlebihan terhadap nenek moyang sekalipun mereka dalam keadaan sesat.

✏ Ketiga, lalai terhadap perenungan ayat-ayat Allah yang terhampar di jagad raya ini yang disebut ayat-ayat Kauniyah atau alam semesta dan ayat-ayat yang tertuang di dalam kitab-Nya yaitu ayat-ayat Qur'aniyah.

Beliau juga mengatakan dimana mereka juga terbuai dengan hasil-hasil tekhnologi dan kebudayaan sampai-sampai mereka mengira bahwa itu semua adalah hasil kreasi manusia semata sehingga mereka mengagung-agungkan manusia serta menisbatkan seluruh kemajuan ini kepada jerih payah dan penemuan manusia semata.

Sebagaimana kesombongan Qorun ketika ia diingatkan untuk bersyukur pada Allah atas karunia yang Allah berikan kepadanya, maka ia mengatakan,

انما اوتيته على علم عندي

"Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu karena ilmu yang ada padaku ".

Kita perhatikan di sini, dimana dia mengaku bahwa kekayaan yang ia miliki itu semata-mata adalah karena kepintaran yang ia miliki. Dalam arti bahwa ia ingkar nikmat.

Berbeda jauh tentunya dengan bagaimana sikap Nabi Sulaiman 'alaihis salam ketika beliau mendapatkan karunia yang sangat besar, kerajaan yang megah, kekayaan yang melimpah ruah, bahkan beliau juga diberi kemampuan berkomunikasi dengan hewan, dengan jin,
tapi apakah kemudian membuat beliau lupa diri atau ingkar terhadap
nikmat Allah ?
Tidak. Justru beliau mengatakan,

هذا من فضل ربي ليبلوني ااشكر ام اكفر

" Ini adalah merupakan karunia dari Robbku supaya Dia mengujiku apakah aku ini bersyukur terhadap nikmat Allah itu atau justru aku ingkar "

No comments:

Post a Comment