Wednesday, April 15, 2015

FAKTOR - FAKTOR YANG MENYEBABKAN PENYIMPANGAN 'AQIDAH

oleh : Ustadz Ubaidillah Masyhadi

 السلام عليكم  ورحمة الله وبركاته.
 الحمد لله نحمده و نستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور  انفسنا ومن سيات اعمالنا، من يهد الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له.
 اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شرىك له، واشهد ان محمدا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم على محمد وعلى اله واصحابه ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين، اما بعد.....

✏ Faktor keempat, disebutkan oleh Syaikh Sholeh al-Fauzan - hafizhohullahu ta'ala, yaitu ghuluw artinya sikap berlebih-lebihan.

Yang dimaksud di sini adalah berlebihan dalam memberikan pujian atau sanjungan kepada orang-orang sholih.

Tentu kita tidak meragukan bahwa orang-orang sholih, terutama para Nabi dan Rosul - sholawat dan salam semoga Allah limpahkan atas mereka semuanya - mereka adalah orang yang sangat dimuliakan oleh Allah ta'ala dimana kita wajib memuliakan mereka. Akan tetapi tidak boleh kita memberikan pujian dan sanjungan melebihi dari apa yang telah ditetapkan oleh Allah ta'ala.

Kita perhatikan sabda Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam kepada para shohabatnya tentunya hal ini ditujukan kepada kita semuanya,

لا تطروني كما اطرت النصارى عيسى ابن مريم انما انا عبد الله فقولوا عبد الله و رسوله.

"Janganlah engkau mengultuskan aku atau berlebih-lebihan di dalam memujiku sebagaimana yang dilakukan orang-orang Nashrani terhadap 'Isa putra Maryam. Sesungguhnya aku adalah hamba Allah, maka katakanlah olehmu, 'Hamba Allah dan Rosul-Nya'.''

Para ulama dalam menjelaskan hadist ini berkata bahwa dari sabda Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam, maka beliau melarang kita dari 2 hal,
☝Pertama, ketika beliau mengatakan, 'Katakanlah bahwa aku adalah hamba Allah'
Ini mencegah kita memujinya melebihi dari apa yang telah ditentukan oleh Allah ta'ala.

✌kedua, ketika Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam bersabda, 'Dan aku adalah rosul-Nya '
memberikan pelajaran bagi kita bahwa kita tidak boleh mengurangi hak beliau apalagi meniadakan sama sekali seperti mendustakan akan kerosulan beliau.

Dua sikap ini yaitu berlebihan di dalam memuji dilarang dan dicela oleh Allah ta'ala sekalipun dengan niat baik karena kita sangat mencintai Rosulullah shollallahu
'alaihi wasallam sebagaimana kita juga dilarang mendustakan kerosulan beliau.

Kita melihat sejarah di zaman Nabi Nuh alaihis salam. Ketika 5 orang sholih meninggal dunia, meninggalkan mereka, mereka merasa ditinggal oleh orang-orang sholih karena orang-orang sholih tersebut memiliki jasa-jasa yang baik.
Kemudian syaithon memanfaatkan hal ini dimana syaithon membisikkan mereka supaya mereka membuat patung yang mirip dengan wajah orang-orang sholih dan diberi nama seperti nama mereka. Maka mereka pun mengikuti bisikan syaithon dengan membuat 5 patung. Ketika selesai pembuatan patung, mereka memang tidak memujanya. Namun ketika datang generasi berikutnya yang tidak memahami apa alasan orang-orang terdahulu membuat patung tersebut, yaitu meng-keramatkan patung tersebut karena memang demikianlah tipu daya syaithon sehingga menjadilah mereka menyembah patung-patung tadi selain daripada Allah ta'ala dan tercapailah tujuan dari iblis laknatullah 'alaih.

Ketika tradisi mereka sudah begitu kuat menjadikan kelima patung tadi sebagai tuhan selain Allah yang disembah-sembah dan dikeramatkan, kemudian Nabi Nuh ingin meluruskan aqidah mereka supaya hanya beribadah kepada Allah saja, maka mereka pun sulit meninggalkan kebiasaan yang buruk ini.

Hal ini diabadikan oleh Allah ta'ala dalam Surat Nuh,

وقالوا لا تذرن الهتكم ولا تتذرن ودا ولا سواعا، ولا يغوث ويعوق و نصرا

"Berkatalah ( sebagian mereka kepada sebagian yang lain), 'dan janganlah sekali-kali kalian meninggalkan tuhan-tuhan yang selama ini kalian sembah (selain Allah) dan jangan pula kalian meninggalkan sesembahan kepada Wad, Suwa, Yaghuts, Ya'uq, dan Nashr' ."

Jadi, 5 nama yang disebut dalam ayat ini adalah 5 orang sholih dari kaumnya Nabi Nuh yang beriman kepada Allah yang kemudian dibuat patungnya sepeninggal mereka oleh orang di masa itu. Inilah cara syaithon menyeret manusia pada kesesatan sedikit demi sedikit sehingga manusia tidak merasa bahwa mereka diseret ke tengah neraka, naudzubillah min dzaalik.

Ini saja penjelasan tentang bahayanya ghuluw / sikap berlebihan dalam memuji orang-orang sholih. Sekali lagi bahwa kita wajib memuliakan orang-orang sholih, para wali Allah, terutama para Nabi dan Rosul dan juga para Shohabat Nabi Muhammad shollallahu 'alaihi wasallam - semoga sholawat dan salam Allah limpahkan atas mereka semuanya - akan tetapi kita tidak boleh berlebihan di dalam memujinya hingga memberikan sifat-sifat ilahiyah atau yang menjadi sifat khusus bagi Allah ta'ala apalagi sampai menuhankan mereka.

Telah dimurojaah oleh: Ustadz Ubaidillah Madyhadi.

No comments:

Post a Comment