Bagian: 1
oleh : Ustadz Ubaidillah Masyhadi
السلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
الحمد لله نحمده و نستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور انفسنا ومن سيات اعمالنا، من يهد الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له.
اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شريك له، واشهد ان محمدا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم على محمد وعلى اله واصحابه ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين، اما بعد.....
Alhamdulillah kita bersyukur kepada Allah Ta'ala karena hingga saat ini, kita diberi ketegaran dan semangat yang tetap dalam memperdalam ajaran Islam yang kita cintai, ajaran Islam atau ilmu diin yang merupakan peninggalan yang sangat mahal dari Nabi Muhammad Shollallahu 'alaihi wa Sallam.
Siapapun yang ingin mendapatkan bagian dari peninggalan beliau, maka dibuka pintu yang sebesar-besarnya karena Rosulullah Shollallahu 'alaihi wa Sallam bersabda bahwa barangsiapa yang mempelajari ilmu diin berarti ia telah mendapatkan bagian yang besar dari peninggalan Nabi Shollallahu 'alaihi wa Sallam.
Pada majelis kedelapan ini, kita akan membahas macam-macam tauhid bagi Allah Subhanahu wa Ta'ala.
Para ulama ahlus sunnah wal jama'ah telah bersepakat bahwa bagian tauhid bagi Allah Ta'ala ada 3 ;
✅ Pertama : Tauhid Rububiyah
✅ Kedua : Tauhid Uluhiyah
✅ Ketiga : Tauhid Asma' wa Shifat
Berikut pembahasan masing -masing tauhid tersebut.
✏ 1. Tauhid Rububiyah bagi Allah Ta'ala
Muallif - Syaikh DR. Sholeh al- Fauzan hafizhohullah berkata bahwa yang dimaksud tauhid Rububiyah adalah mengesakan Allah Ta'ala dalam hal perbuatan- perbuatan- Nya, yaitu meyakini bahwa Dialah satu-satunya Dzat yang menciptakan seluruh makhluk (seluruh alam semesta).
Allah Subhanahu wa Ta'ala mempertegas hal ini di dalam suroh az-Zumar ayat 62:
الله خالق كل شيء
"Allah adalah Pencipta segala sesuatu ".
Juga di dalam suroh Hud ayat 6, Allah Ta'ala berfirman :
وما من دابة في الارض الا على الله رزقها
" Tidaklah ada melata di muka bumi ini, melainkan Allah yang menanggung rizkinya ".
Ini menunjukkan bahwa Dialah yang memberi rizki seluruh apa yang melata dan juga bagi bangsa manusia.
Demikian pula tauhid Rububiyah bermakna bahwa Dialah Pemilik kerajaan yang mengatur seluruh alam. Dia yang memberikan kecintaan dan Dia pulalah yang memberikan sebaliknya. Dia yang memuliakan dan Dia yang menghinakan. Dia Maha Mampu/ berkuasa atas segala sesuatu. Dia pula yang menggilirkan malam dan siang dan Dia pula yang menghidupkan dan mematikan.
Semua ini tercakup di dalam suroh Ali 'Imron ayat 26 dan 27.
Kemudian Allah telah menafikan bagi diri- Nya syariik, yaitu orang yang bersekutu dengan- Nya dalam hal kerajaan ini, bersekutu dalam hal menciptakan, memberi rizki, dan sebagainya. Karena itulah, ketika ada orang- orang yang berusaha membuat tandingan- tandingan bagi Allah Ta'ala, misalnya dalam hal menciptakan, maka Allah Ta'ala memberikan tantangan yang keras (kpd orang-orang musyrik tsb) sebagaimana Allah berfirman di dalam suroh Luqman ayat 11 :
" Inilah ciptaan Allah, maka hendaklah kalian menunjukkan kepadaku mana yang diciptakan oleh orang - orang yang selain Dia."
Demikian juga Allah Ta'ala berfirman,
امن هذا الذي يرزقكم ان امسك رزقه.
" Atau siapakah yang bisa memberi kamu rizki apabila Allah menahan rizki bagimu?"
QS. Al-Mulk:21.
Ini juga merupakan tantangan Allah Ta'ala kepada orang- orang yang membuat sekutu bagi Allah, termasuk dalam hal memberi rizki.
Kemudian muallif - hafizhohullah- berkata, "Sebagaimana Allah Ta'ala juga telah mempermaklumkan akan kesendirian- Nya dalam hal Rububiyah atas segala makhluk-Nya dimana Allah berfirman,
الحمد لله رب العالمين
" Segala puji bagi Allah, Robb semesta alam ".
Wallahu a'lamu bish showab
No comments:
Post a Comment