Thursday, April 9, 2015

MAKNA 'AQIDAH

Majelis Kedua KAKITA (Kajian Kitab Tauhid)

Download Audio

oleh : Ustadz Ubaidillah Masyhadi


السلام عليكم  ورحمة الله وبركاته.
الحمد لله نحمده و نستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور  انفسنا ومن سيات اعمالنا، من يهد الله فلا مضل له ومن يضلله فلا هادي له.
اشهد ان لا اله الا الله وحده لا شرىك له، واشهد ان محمدا عبده ورسوله.
اللهم صل وسلم على محمد وعلى اله واصحابه ومن تبعهم باحسان الى يوم الدين، اما بعد.....

Majelis kedua ini kita akan langsung membahas Kitab Tauhid yang ditulis oleh asy-Syaikh DR. Sholeh al-Fauzan. Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan sudah dicetak ulang berkali-kali. Ini menunjukkan bahwa kitab ini sangat layak untuk dipelajari terutama bagi siapa saja yang baru menyadari pentingnya pelajaran ilmu aqidah atau ilmu tauhid.

Ikhwani fid-diin rohimakumullah,
Muallif -hafizhohullah- mengawali pembahasannya dengan menerangkan tentang al-'aqidah dari sisi lughoh / etimologi, dimana aqidah berasal dari kata "al-'aqd " yang berarti pengikat, "Saya beri'tikad begini". Maksudnya saya mengikat hati terhadap hal tersebut.

Dan secara syara'/istilah syari'at, aqidah yaitu beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rosul-Nya, beriman pada hari kiamat, dan beriman pada takdir Allah yang baik maupun yang buruk, dimana semua ini disebut dengan rukun iman sebagaimana yang telah kita ketahui.

Beliau juga menyebutkan bahwa syariat terbagi secara global menjadi 2, yaitu i'tiqodiyah dan amaliyah. I'tiqodiyah adalah hal-hal yang tidak berhubungan dengan tata cara amal. Seperti kepercayaan kepada Rububiyyah Allah ta'ala dan kewajiban beribadah kepada-Nya. Juga beri'tiqod terhadap rukun-rukun iman yang lainnya. Hal ini disebut dengan ashliyyah, yaitu pokok agama.
Sementara al-amaliyah yaitu segala apa yang berhubungan dengan tata cara amal seperti sholat, zakat, puasa, dan seluruh hukum-hukum amaliyah. Bagian ini disebut dengan far'iyyah atau cabang agama karena ia dibangun di atas i'tiqodiyyah.

Benar dan rusaknya suatu amalan bergantung dengan benar dan rusaknya i'tiqod tersebut. Oleh karena itu, maka seseorang harus memperhatikan aqidah pada dirinya karena hal ini akan memberi pengaruh besar terhadap amalan-amalan yang dilakukan. Seperti ibadah sholat, seandainya ia melakukan kesyirikan, misalnya seseorang mati melakukan syirik besar, maka sebagaimana firman Allah, "Dan apabila engkau berbuat syirik, maka gugurlah seluruh pahala amalan kamu dan kamu di akhirat termasuk orang-orang yang merugi".

Juga firman Allah dalam al-Qur'an surat al-Kahfi ayat 110 yang artinya,  "Barangsiapa yang mengharap perjumpaan dengan Robbnya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang sholih dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Robbnya".
Allah ta'ala melarang keras seseorang ketika beribadah kepada Allah, namun ia masih suka melakukan kesyirikan-kesyirikan.

Pada ayat sebelumnya, surat az-Zumar ayat 65 :

لان اشركت ليحبطن عملك ولتكونن من المشركين..
(QS. az-Zumar: 65)

Syirik menyebabkan gugurnya amalan seseorang. Tentunya hal ini ada penjelasannya berkaitan dengan masalah syirik, bagaimana tentang syirik besar, bagaimana tentang syirik kecil. Oleh karena itu, mudah-mudahan kita tetap bisa mengikuti kajian ini sehingga kita bisa memahami kitab ini dengan baik, in sya Allah.

Kita memohon kepada Allah supaya kita diberi ketegaran dan istiqomah dalam mempelajari ajaran yang dibawa Rosulullah shollallahu 'alaihi wasallam, khususnya yang menyangkut masalah aqidah ini.

No comments:

Post a Comment